Alam Pikiran Manusia
Terhadap Mitos
Diajukan Untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Mata Kuliah Ilmu Alamiah
Dasar – kelas A –
Semester Ganjil (III) – Program Studi Pendidikan
Guru Raudhatul
Athfal – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri
Sunan Gunung Djati
Dosen:
H. Yayan Carlian,
M.Pd.
Disusun
oleh :
Alis Siti Nuraeni 1142100004
Fitri Novianti 1142100028
Fitrah Fairus 1142100027
Bandung
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Tuhan menciptakan dua makhluk, yang
satu bersifat anorganis (benda mati) dan yang lain bersifat organis (makhluk
hidup). Benda yang menjadi pengisi bumi tunduk pada hukum alam (deterministis)
dan makhluk hidup tunduk pada hukum kehidupan (biologis), tetapi yang jelas
ciri-ciri kehidupan manusia sebagai makhluk yang tertinggi, lebih sempurna dari
hewan maupun tumbuhan.
Dari sekian banyak ciri-ciri manusia
sebagai makhluk hidup, akal budi dan kemauan keras itulah yang merupakan sifat
unik manusia. Manusia merupakan makhluk hidup ciptaan tuhan yang paling
berhasil dalam persaingan hidup di bumi ini, meski banyak keterbatasan fisik,
seperti: ukuran, kekuatan, kecepatan, dan panca inderanya, bila dibandingkan
dengan penghuni bumi lainnya. Keberhasilan itu disebabkan oleh manusia memiliki
kemampuan otak yang lebih baik daripada makhluk lainnya, yang memungkinkan
lebih mudah untuk beradabtasi dengan lingkungannya.
Rasa ingin tahu, juga merupakan
salah satu ciri khas manusia. Ia mempunyai kemampuan untuk berpikir sehingga
rasa keingintahuannya tidak tetap sepanjang zaman. Karena manusia akan selalu
bertanya apa, bagaimana dan mengapa begitu. Manusia juga mampu menggunakan
pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru
sehingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
hakekat alam pikiran manusia yang sebenarnya dan bagaimana sifat
keingintahuannya?
2.
Bagaimana sejarah pengetahuan manusia terhadap mitos?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana alam
pikiran manusia yang sebenarnya dan sifat keingintahuannya.
2.
Untuk mengetahui perkembangan alam pikiran manusia terhadap mitos.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Manusia dan Keingintahuannya
Manusia dengan kemampuan berpikir dan bernalar, dengan akal
serta nuraninya memungkinkan untuk selalu berbuat yang lebih baik dan bijaksana
untuk dirinya maupun lingkungannya.
1. Kelebihan Manusia dari Penghuni Bumi Lainnya
Manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan
dibandingkan dengan penghuni bumi lainnya. Beberapa kelebihan manusia dari pada
makhluk lainnya antara lain :
a. Manusia
sebagai makhluk berpikir dan bijaksana (Homo sapiens) yang dicerminkan dalam
tindakan dan perilakunya terhadap lingkungannya.
b. Manusia sebagai
pembuat alat karena sadar akan keterbatasan inderanya.
c. Manusia dapat berbicara (Homo Langues)
baik secara lisan maupun tulisan.
d. Manusia dapat hidup
bermasyarakat (Homo sosius) dan berbudaya (Homo Humanis).
e. Manusia
dapat mengadakan usaha (Homo Economicus).
f. Manusia
mempunyai kepercayaan dan beragama (Homo religious).
2. Sifat Keingintahuan Manusia
Manusia dengan rasa ingin tahunya yang besar ,selalu
berusaha mencari keterangan tentang fenomena alam yang teramati. Untuk menjawab
semua rasa ingin tahu manusia sering mereka – reka jawaban mereka sendiri .
Pengetahuan seperti inilah yang disebut pseudo science. Ilmu pengetahuan juga
berkembang sesuai dengan zamannya dan sejalan dengan cara berpikir dan alat
bantu yang ada pada saat itu .
Cara memperoleh sains semu ( pseudo
sains ), antara lain :
1. Mitos
2. Wahyu
3. Otoritas dan tradisi
4. Prasangka
5. Intuisi
6. Penemuan
kebetulan
7. Cara
– coba – ralat
Pada zaman Yunani ( 600 – 200 SM )
terjadi pola pikir yang lebih maju dari pola pikir mitos, dimana terjadi
penggabungan antara pengamatan, pengalaman dan akal sehat, logika atau
rasional. Aliran ini disebut rasionalisme. Lebih lanjut lagi dikenal dengan
metode deduksi yaitu penarikan suatu kesimpulan didasarkan pada suatu yang
bersifat umum (Premis mayor) menuju ke yang khusus (Premis minor). Dasar metode
ilmiah sekarang adalah metode induksi, yang intinya adalah bahwa pengambilan
keputusan dan kesimpulan dilakukan berdasarkan data pengamatan atau eksperimen.
Dengan selalu berlangsungnya perkembangan pengetahuan itu,
tampak lebih nyata bahwa manusia berbeda dengan hewan. Manusia merupakan
makhluk hidup yang berakal serta mempunyai derajat yang tinggi bila
dibandingkan dengan hewan atau makhluk lainnya. Manusia mempunyai rasa ingin
tahu ( curiousty ) yang tinggi dan selalu berkembang. Meskipun makhluk lainnya
juga memiliki rasa ingin tahu tetapi itu hanya sebatas digunakan untuk memenuhi
kebutuhan makanan saja. Perkembangan rasa ingin tahu pada manusia dimulai
dengan timbulnnya pertanyaan dari sesuatu yang dilihat dan diamatinya. Adanya
kemampuan berpikir pada manusia menyebabkan terus berkembangnya rasa ingin tahu
manusia terhadap alam semesta ini . Jawaban tehadap berbagai
banyak pertanyaan manusia terhadap peristiwa dan gejala yang terjadi di
alam semesta ini akhirnya menjadi ilmu pengetahuan.
B. Perkembangan Alam Pikiran
Manusia Mitos
Mitos berasal dari bahasa yunani mytos
atau mite bahasa Belanda myte adalah cerita prosa rakyat yang
menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam
semesta dan keberadaan mahluk didalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi
oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian tang lebih luas
mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan
terjadinya alam semesta, dunia dan para mahluk penghuninya. Orang pertama yang
memperkenalkan istilah mitos plato.
Berfikir adalah suatu kegiatan untuk
memperoleh/menemukan pengetahuan yang benar. Proses berfikir dalam menarik
kesimpulan berupa pengetahuan yang benar disebut penalaran. Pengetahuan yang
dihasilkan penalaran ini merupakan hasil kegiatan berfikir, bukanlah hasil
perasaan. Tidak semua kegiatan berfikir merupakan penalaran. Penalaran
merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai ciri-ciri tertentu yakni logis dan
analistis.
Berdasarkan kriteria ini, maka
tidak semua kegiatan berfikif merupakan berfikir logis dan analistis. Cara berfikir
yang tidak logis dan analistis bukan merupakan penalaran. Terdapat berbagai
cara untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang tidak berdasarkan
penalaran, di antaranya ialah :
a. Pengambilan kesimpulan berdasarkan perasaan.
Merasa, merupakan suatu cara menarik
kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran.
b. Intuisi
c. Merupakan kegiatan berfikir yang tidak analistis, tidak berdasarkan
pada pola berfikir tertentu.
d. Wahyu.
Adalah pengetahuan yang disampaikan oleh
tuhan kepada utusanNya.
e. Trial and error.
Suatu cara untuk memperoleh pengetahuan secara
coba-coba atau untung-untungan. Oleh karena itu, Pola pikir berdasarkan mitos
mengajak manusia untuk berkembang melalui tahap-tahap peradabannya dari
menemukan sesuatu yang asing menuju ke sesuatu yang dikenal. Ini adalah suatu
hal yang dapat kita katakan sebagai pola kemanusiawian biasa. Implikasinya,
berpikir berdasarkan mitos adalah suatu bakat manusiawi, tidak bisa kita
hindari. Demikianlah yang dialami oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia termasuk
bangsa Indonesia, walaupun dapat dipergunjingkan lagi ketika perilaku semacam
ini masih bertahan sampai sekarang.
Pada
zaman dahulu, kemampuan manusia masih terbatas baik peralatan maupun pemikiran.
Keterbatasan itu menyebakan pengamatan menjadi kurang seksama, dan cara pemikiran
yang sederhana menyebabkan hasil pemecahan masalah memberikan kesimpulan yang
kurang tepat. Dengan demikan, pengetahuan yang terkumpul belum memberikan
kepuasan terhadap rasa ingin tahu manusia dan masih jauh dari kebenaran.
Perkembangan selanjutnya
adalah untuk memenuhi kebutuhan non-fisik atau kebutuhan alam pikirannya, jadi
tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, Rasa ingin tahu manusia
ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan maupun
pengalamannya. Untuk memuaskan alam pikirannya, manusia
mereka-reka sendiri jawaban nya. Sebagai contoh:
Pelangi adalah fenomena alam indah yang sering
dilihat manusia. Pelangi merupakan suatu busur spektrum besar yang terjadi
karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. “Apakah
pelangi itu”. Karena tak dapat dijawab, mereka mereka-reka dengan jawaban bahwa
pelangi adalah selendang “ Bidadari “. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu
“Bidadari”.
Contoh lain
“mengapa gunung meletus?
Karena tak tahu jawabannya maka direka-reka sendiri dengan jawaban “yang
berkuasa dari gunung itu sedang marah”. Dengan menggunakan jalan fikiran yang
sama munculah anggapan adanya “yang berkuasa” di dalam hutan lebat, sungai yang
besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan
bulan pada saat gerhana rembulan.
Adapun
cerita yang berdasarkan atas mitos ini disebut “lagenda”. Mitos
itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indra manusia
a.
Alat Pengelihatan
Banyak
benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata.
Mata tak dapat membedakan 10 gambar yang berbeda satu dengan yang lain dalam
satu detik. Jika ukuran partikrl itu kecil, demikian juga jika beda yang
dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
b.
Alat Pendengaran
Pendengaran
manusia terbatas pada getaran yang mempunyai prekuensi dari 30 sampai 30.000
per/ detik. Getran dibawah tiga puluh atau diatas tiga puluh ribu per/detik tak
terdengar.
c.
Alat Penciuma dan Alat Pencecapan
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang
dikecap maupun diciumnya. Manusia hanya bias menbedakan 4 jenis rasa yaitu rasa
manis, asam, asin dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan lain dapat
dikenal oleh hidung kita bila konsentrasinya di udara lebih dari sepersepuluh
juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang
lain, namun tidak semua orng bias melakukannya.
d.
Alat perasa
Alat perasa pada kulit manusia
dapat membedakan panas dingin namun sangat relatif, sehingga tidak bisa di
pakai sebagai alat observasi yang tepat.
Alat-alat
indra diatas sangat berbeda-beda diantara manusia: ada yang sangat tajam
pengelihatannya dan ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam, penciumannya
ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indra kita mka mungkin timbul
salah informasi, salah tafsir dan mungkin salah pemikiran. Untuk meningkatkan
ketetapan alat indra tersebut dapat juga orang di latih untuk itu, namun tetep
sangat terbatas. Usaha-usaha lain adalah penciptaan alat, meskipun alat yang di
ciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan
pengamatan tersebut.
Mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada
masa itu karena;
a. Keterbtasan pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan
pengindraan baik langsung maupun dengan alat.
b.
Keterbatasan
penalaran manusia pada masa itu, dan
c.
Hasrat
ingin tahunya terpenuhi.
Bagaimana tanggapan
masyarakat setelah pengetahuan mereka yang diperoleh dari hasil pengamatan
dengan alat-alat ternyata berbeda dengan apa yang mereka tahu atau percaya
berdasarkan mitos.
Menurut
Auguste Comte (1798-1857 M), dalam sejarah perkembangan jiwa manusia baik
sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung dalam 3 tahap :
1)
Tahap teologi atau fiktif.
2)
Tahap filsafat atau
metafisik.
3)
Tahap positif atau
ilmiah ril.
Pada masa teologi atau fiktif,
manusia menciptakan mitos untuk memahami gejala alam yang ada di sekitarnya.
Mitos adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pemikiran
sederhana serta dikaitkan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan gaib. Dalam
alam mitos ini, penalaran belum terbentuk, dan yang bekerja adalah daya khayal,
imajinasi dan intuisi.
Demikian juga manusia dengan objek
masih menjadi satu antara subjek dengan objek belum ada jarak, sehingga
pengetahuan yang diperoleh bersifat subjektif. Dahulu mitos
sangat berpengaruh, bahkan sampai sekarang ini pun belum sepenuhnya hilang.
Mencari jawaban atas sesuatu masalah dengan menghubungkannya dengan makhluk
ghaib disebut berfikir secara Irasional. Tentu saja melalui ini, pengetahuan
yang diperoleh belum dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Manusia
secara terus menerus selalu mengembangkan pengetahuan. Mereka mengembangkan
pengetahuan tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan yang menyangkut
kelangsungan hidupnya saja. Mereka juga berusaha untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
C. Sejarah
Pengetahuan Manusia
Manusia selalu merasa ingin tahu,
maka sesuatu yang belum terjawab dikatakan wallahualam, artinya Allah yang
lebih mengetahui dan wallahualam bissawab yang artinya Allah mengetahui
sebenarnya. Perkembangan lebih lanjut lanjut dari rasa ingin tahu manusia ialah
untuk memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya, untuk itu
manusia mereka-reka sendiri jawabannya. A. Comte menyatakan bahwa ada tiga
tahap sejarah perkembangan manusia, yaitu tahap teologi (tahap metafisika),
tahap filsafat dan tahap positif (tahap ilmu). Mitos termasuk tahap teologi
atau tahap metefisika. Mitologi adalah pengetahuan tentang mitos yang
merupakan kumpulan cerita-cerita mitos. Cerita mitos sendiri ditularkan lewat
tari-tarian, nyanyian, wayang dan lain-lain.
Secara garis besar, mitos dibedakan
atas tiga macam, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat dan legenda. Mitos
timbul akibat keterbatasan pengetahuan, penalaran dan pancaindra manusia serta
keinggintahuan manusia yang telah dipenuhi walaupun hanya sementara.
Puncak pemikiran mitos
adalah pada zaman babylonia ±600-700 SM. Ia beranggapan alam semesta sebagai
ruang setenagn bola dengan bumi datar sebagai tantangan dan langit dengan
bintang-bintang sebagai atapnya yang menakjubkan mebgenal bidang ekleptika
sebagai bidang edar matahari beredar ketemapat semula yaitu 25 hari (tahun
kabisat) dan 365 hari (taun basitoh) juga mengenal kelompok bintang yaitu rasi
scorpio, pisces, leo dan sebagainya. Rasi bintang saat ini berasal dari zaman
ini pengetahuan dan ajaran babilonia setengahnya merupakan dugaan, imajinasi
kepercayaan (mitos) disebut PSEUDO SCIENCE (sains palsu) artinya mirip sains
tapi bkan sains sebenarnya terkadang terdapat pada pola piker orang yunani kuno
(700-800 SM) ahlinfilosod astronom matematika dan teknik salah satunya keaneka
ragaman benda di alam ini merupakan gejala alam saja dengan bahan dasarnya air,
tetapi masih ada pendapat yang mengatakan bahwa benda itu diciptakan oleh
dewa-dewa.
Orang Babilonia menganut politeisme
atau menyembah banyak dewa. Kepercayaan Babilonia banyak dipengaruhi oleh
kepercayaan Sumeria. Orang Babilonia membangun banyak tempat pemujaan buat dewa
yang mereka sembah. Terdapat banyak mitos yang mengiringi kepercayaan Babilonia seperti tentang
penciptaan atau asal mula kehidupan di bumi. Sebagai
contoh, Epos Gilgames, yang mengisahkan tindakan dewa-dewa dalam penciptaan,
merupakan salah satu sastra penting Mesopotamia.
Menurut
kepercayaan Babilonia, semua dewa merupakan keturunan dari Apsu dan Tiamat.
Menurut legenda, dewa-dewa Babilonia tidak bisa
mengendalikan anak-anak mereka sehingga terjadi pemberontakan yang berakhir
ketika Ea membunuh Apsu sementara Tiamat tidak melakukan apapun. Setiap generasi berikutnya dari dewa Babilonia dianggap lebih
unggul dari dewa sebelumnya yang berpuncak
pada Marduk, dewa kebijaksanaan, yang menjadi penguasa para dewa.
Orang
Babilonia merayakan kematian dan kelahiran kembali Marduk setiap tahun sebagai
bagian dari kepercayaan mereka.Dikisahkan,
Marduk akhirnya mengalahkan Tiamat dan setelah itu menciptakan dunia bersama
dengan manusia yang hidup di dalamnya. Hubungan
kekerabatan dewa-dewa Babilonia cukup kompleks. Namun ada beberapa yang layak
disimak. Sin, misalnya, adalah dewa bulan,
dan ayah dari Shamash, dewa orang miskin dan wisatawan. Nintu dan Anu keduanya menciptakan dewa, serta kemampuan
menciptakan angin. Damkina dipercaya
sebagai dewi bumi, dan merupakan istri dari Ea, dewa kebijaksanaan yang juga
mengawasi seni. Mummu adalah dewa lain
yang terkenal sebagai pengrajin. Enlil merupakan dewa udara yang juga
mengendalikan cuaca. Ishtar, dewi cinta
dan perang, menjadi terkenal karena merambah ke dunia bawah (underworld) untuk
mendapatkan kekasihnya kembali. Menarik
untuk dicatat bahwa sementara cinta dan perang tampaknya bertentangan di mata
masyarakat modern, Ishtar bukan satu-satunya dewi cinta dan perang di kawasan
Laut Tengah.
Tokoh pembaharu pada masa babilonia
1. Anaximender (548-610 SM)
2. Anaximenes (470-560SM)
3. Herakledos (470-560)
4. Pytagoras (500 SM)
5. Erndedokles (430-480 SM)
6. Plato (347-423)
7. Aritoteles (322-348)
D. Timbulnya Serta Kepuasan Mitos
Tongkak sejarah pengamatan,
pengalaman dan akal sehat manusia ialah Thales (624-546) seorang astronom,
pakar dibidang matematika dan teknik. Ia berpendapat bahwa bintang mengeluarkan
cahaya, bulan hanya mementulkan sinar matahari,dan lain-lain. Setelah itu
muncul tokoh-tokoh perubahan lainnya seperti Anaximander, Anaximenes,
Herakleitos, Pythagoras dan sebagainya.
Berlandaskan pada pengetahuan
tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha
untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan
pemenuhan kebutuhan hidupnya. Berdasarkan hal itulah mulailah dikembangkan
pengetahuan praktis yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan sosialnya.
Pengetahuan ini selanjutnya disebut sebagai teknologi yang merupakan penerapan
IPA dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi, produksi dan industri
secara tidak langsung akan diikuti dengan perubahan pola hidup manusia.
Perubahan ini juga semakin mendorong rasa ingin tahu manusia ke arah yang lebih
kompleks. Dengan demikian manusia akan terus berusaha mengetahui segala rahasia
alam semesta yang belum terungkap
Manusia sebagai mahluk yang berfikir
dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal,
memahami, dan menkjelaskan gejala-gejala alam. Rata-rata alam fikiran manusia
dapat berkembang tidak hanya didapatkan dari objek yang diamati melalui
pancaindra saja, tetapi seperti yang berhubungan dengan baik atau buruk, benar
atau salah dan lain-lainnya.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Ilmu pengetahuan
bermula dari rasa ingin tahu. Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang
berkembang. Akumulasi dari segala yang mereka dapat dari usahanya mendapatkan
jawaban dari keingintahuannya itu merupakan “pengetahuan”-nya. Pengetahuan
manusia selalu berkembang. Ia selalu tidak puas dengan fakta tetapi ingin tahu
juga tentang “apa,” “bagaimana” dan “mengapa” demikian.
Puncak
hasil pemikiran mitos terjadi pada zaman Babylonia (700-600 SM) yaitu horoskop
(ramalan bintang), eliptika (bidang edar matahari) dan bentuk alam semesta yang
menyerupai ruangan setengah bola dengan bumi datar sebagai lantainya sedangkan
langit-langit dan bintangnya merupakan atap.
Berlandaskan
pada pengetahuan tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia
kemudian berusaha untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk
memperbaiki kualitas dan pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Rasa
ingin tahu tersebut menyebabkan manusia menyelidiki persoalan-persolan yang
akan menghasilkan jawaban. Demikianlah pikiran manusia berkembang dari pikiran
primitif sampai kepikiran yang modern.Dengan adanya ilmu pengetahuan dan rasa
ingin tahu pada diri manusia, maka diharapkan setiap individu mengembangkan
rasa ingin tahu tersebut menjadi penelitian-penelitian yang akan menghasilkan
penemuan-penemuan yang berguna bagi ilmu pengetahuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar