Selasa, 15 Desember 2015

Alam Pikiran Manusia Terhadap Mitos



Alam Pikiran Manusia Terhadap Mitos
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Mata Kuliah Ilmu Alamiah
Dasar – kelas A – Semester Ganjil (III) – Program Studi Pendidikan
Guru Raudhatul Athfal – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Dosen:
H. Yayan Carlian, M.Pd.








Disusun oleh :
Alis Siti Nuraeni                                 1142100004
Fitri Novianti                                      1142100028
Fitrah Fairus                                        1142100027

Bandung

2015



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
            Tuhan menciptakan dua makhluk, yang satu bersifat anorganis (benda mati) dan yang lain bersifat organis (makhluk hidup). Benda yang menjadi pengisi bumi tunduk pada hukum alam (deterministis) dan makhluk hidup tunduk pada hukum kehidupan (biologis), tetapi yang jelas ciri-ciri kehidupan manusia sebagai makhluk yang tertinggi, lebih sempurna dari hewan maupun tumbuhan.
            Dari sekian banyak ciri-ciri manusia sebagai makhluk hidup, akal budi dan kemauan keras itulah yang merupakan sifat unik manusia. Manusia merupakan makhluk hidup ciptaan tuhan yang paling berhasil dalam persaingan hidup di bumi ini, meski banyak keterbatasan fisik, seperti: ukuran, kekuatan, kecepatan, dan panca inderanya, bila dibandingkan dengan penghuni bumi lainnya. Keberhasilan itu disebabkan oleh manusia memiliki kemampuan otak yang lebih baik daripada makhluk lainnya, yang memungkinkan lebih mudah untuk beradabtasi dengan lingkungannya.
            Rasa ingin tahu, juga merupakan salah satu ciri khas manusia. Ia mempunyai kemampuan untuk berpikir sehingga rasa keingintahuannya tidak tetap sepanjang zaman. Karena manusia akan selalu bertanya apa, bagaimana dan mengapa begitu. Manusia juga mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru sehingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.

B.      Rumusan Masalah

1.      Apa hakekat alam pikiran manusia yang sebenarnya dan bagaimana sifat keingintahuannya?
2.      Bagaimana sejarah pengetahuan manusia terhadap mitos?

C.      Tujuan

1.      Untuk mengetahui bagaimana alam pikiran manusia yang sebenarnya dan sifat keingintahuannya.
2.      Untuk mengetahui perkembangan alam pikiran manusia terhadap mitos.











BAB II
PEMBAHASAN

A.     Hakikat Manusia dan Keingintahuannya

Manusia dengan kemampuan berpikir dan bernalar, dengan akal serta nuraninya memungkinkan untuk selalu berbuat yang lebih baik dan bijaksana untuk dirinya maupun lingkungannya.
1.  Kelebihan Manusia dari Penghuni Bumi Lainnya
            Manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan penghuni bumi lainnya. Beberapa kelebihan manusia dari pada makhluk lainnya antara lain :
a.   Manusia sebagai makhluk berpikir dan bijaksana (Homo sapiens) yang dicerminkan dalam tindakan dan perilakunya terhadap lingkungannya.
b.     Manusia sebagai pembuat alat karena sadar akan keterbatasan inderanya.
c.      Manusia dapat berbicara (Homo Langues) baik secara lisan maupun tulisan.
d.     Manusia dapat hidup bermasyarakat (Homo sosius) dan berbudaya (Homo Humanis).
e.      Manusia dapat mengadakan usaha (Homo Economicus).
f.       Manusia mempunyai kepercayaan dan beragama (Homo religious).
2.  Sifat Keingintahuan Manusia
Manusia dengan rasa ingin tahunya yang besar ,selalu berusaha mencari keterangan tentang fenomena alam yang teramati. Untuk menjawab semua rasa ingin tahu manusia sering mereka – reka jawaban mereka sendiri . Pengetahuan seperti inilah yang disebut pseudo science. Ilmu pengetahuan juga berkembang sesuai dengan zamannya dan sejalan dengan cara berpikir dan alat bantu yang ada pada saat itu .
Cara memperoleh sains semu ( pseudo sains ), antara lain :
1.      Mitos
2.      Wahyu
3.      Otoritas dan tradisi
4.      Prasangka
5.      Intuisi
6.      Penemuan kebetulan
7.      Cara – coba – ralat

            Pada zaman Yunani ( 600 – 200 SM ) terjadi pola pikir yang lebih maju dari pola pikir mitos, dimana terjadi penggabungan antara pengamatan, pengalaman dan akal sehat, logika atau rasional. Aliran ini disebut rasionalisme. Lebih lanjut lagi dikenal dengan metode deduksi yaitu penarikan suatu kesimpulan didasarkan pada suatu yang bersifat umum (Premis mayor) menuju ke yang khusus (Premis minor). Dasar metode ilmiah sekarang adalah metode induksi, yang intinya adalah bahwa pengambilan keputusan dan kesimpulan dilakukan berdasarkan data pengamatan atau eksperimen.
Dengan selalu berlangsungnya perkembangan pengetahuan itu, tampak lebih nyata bahwa manusia berbeda dengan hewan. Manusia merupakan makhluk hidup yang berakal serta mempunyai derajat yang tinggi bila dibandingkan dengan hewan atau makhluk lainnya. Manusia mempunyai rasa ingin tahu ( curiousty ) yang tinggi dan selalu berkembang. Meskipun makhluk lainnya juga memiliki rasa ingin tahu tetapi itu hanya sebatas digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan saja. Perkembangan rasa ingin tahu pada manusia dimulai dengan timbulnnya pertanyaan dari sesuatu yang dilihat dan diamatinya. Adanya kemampuan berpikir pada manusia menyebabkan terus berkembangnya rasa ingin tahu manusia terhadap alam semesta ini . Jawaban tehadap berbagai banyak pertanyaan manusia terhadap peristiwa dan gejala yang terjadi di alam semesta ini akhirnya menjadi ilmu pengetahuan.

B.      Perkembangan Alam Pikiran Manusia Mitos

Mitos berasal dari bahasa yunani mytos atau mite bahasa Belanda myte adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan mahluk didalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian tang lebih luas mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para mahluk penghuninya. Orang pertama yang memperkenalkan istilah mitos plato.
Berfikir adalah suatu kegiatan untuk memperoleh/menemukan pengetahuan yang benar. Proses berfikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan yang benar disebut penalaran. Pengetahuan yang dihasilkan penalaran ini merupakan hasil kegiatan berfikir, bukanlah hasil perasaan. Tidak semua kegiatan berfikir merupakan penalaran. Penalaran merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai ciri-ciri tertentu yakni logis dan analistis.
  Berdasarkan kriteria ini, maka tidak semua kegiatan berfikif merupakan berfikir logis dan analistis. Cara berfikir yang tidak logis dan analistis bukan merupakan penalaran. Terdapat berbagai cara untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang tidak berdasarkan penalaran, di antaranya ialah :
a.      Pengambilan kesimpulan berdasarkan perasaan.
 Merasa, merupakan suatu cara menarik kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran.
b.      Intuisi
c.       Merupakan kegiatan berfikir yang tidak analistis, tidak berdasarkan pada pola berfikir tertentu.
d.      Wahyu.
 Adalah pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan kepada utusanNya.
e.      Trial and error.
Suatu cara untuk memperoleh pengetahuan secara coba-coba atau untung-untungan. Oleh karena itu, Pola pikir berdasarkan mitos mengajak manusia untuk berkembang melalui tahap-tahap peradabannya dari menemukan sesuatu yang asing menuju ke sesuatu yang dikenal. Ini adalah suatu hal yang dapat kita katakan sebagai pola kemanusiawian biasa. Implikasinya, berpikir berdasarkan mitos adalah suatu bakat manusiawi, tidak bisa kita hindari. Demikianlah yang dialami oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia termasuk bangsa Indonesia, walaupun dapat dipergunjingkan lagi ketika perilaku semacam ini masih bertahan sampai sekarang.
Pada zaman dahulu, kemampuan manusia masih terbatas baik peralatan maupun pemikiran. Keterbatasan itu menyebakan pengamatan menjadi kurang seksama, dan cara pemikiran yang sederhana menyebabkan hasil pemecahan masalah memberikan kesimpulan yang kurang tepat. Dengan demikan, pengetahuan yang terkumpul belum memberikan kepuasan terhadap rasa ingin tahu manusia dan masih jauh dari kebenaran.
Perkembangan selanjutnya adalah untuk memenuhi kebutuhan non-fisik atau kebutuhan alam pikirannya, jadi tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan maupun pengalamannya. Untuk memuaskan alam pikirannya, manusia mereka-reka sendiri jawaban nya. Sebagai contoh:
Pelangi adalah fenomena alam indah yang sering dilihat manusia. Pelangi merupakan suatu busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. “Apakah pelangi itu”. Karena tak dapat dijawab, mereka mereka-reka dengan jawaban bahwa pelangi adalah selendang “ Bidadari “. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu “Bidadari”.
Contoh lain
 “mengapa gunung meletus? Karena tak tahu jawabannya maka direka-reka sendiri dengan jawaban “yang berkuasa dari gunung itu sedang marah”. Dengan menggunakan jalan fikiran yang sama munculah anggapan adanya “yang berkuasa” di dalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana rembulan.
Adapun cerita yang berdasarkan atas mitos ini disebut “lagenda”. Mitos itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indra manusia
a.      Alat Pengelihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tak dapat membedakan 10 gambar yang berbeda satu dengan yang lain dalam satu detik. Jika ukuran partikrl itu kecil, demikian juga jika beda yang dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
b.      Alat Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai prekuensi dari 30 sampai 30.000 per/ detik. Getran dibawah tiga puluh atau diatas tiga puluh ribu per/detik tak terdengar.
c.       Alat Penciuma dan Alat Pencecapan
 Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dikecap maupun diciumnya. Manusia hanya bias menbedakan 4 jenis rasa yaitu rasa manis, asam, asin dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan lain dapat dikenal oleh hidung kita bila konsentrasinya di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain, namun tidak semua orng bias melakukannya.
d.      Alat perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas dingin namun sangat relatif, sehingga tidak bisa di pakai sebagai alat observasi yang tepat.
            Alat-alat indra diatas sangat berbeda-beda diantara manusia: ada yang sangat tajam pengelihatannya dan ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam, penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indra kita mka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan mungkin salah pemikiran. Untuk meningkatkan ketetapan alat indra tersebut dapat juga orang di latih untuk itu, namun tetep sangat terbatas. Usaha-usaha lain adalah penciptaan alat, meskipun alat yang di ciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan tersebut.
Mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena;
a.      Keterbtasan pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan pengindraan baik langsung maupun dengan alat.
b.       Keterbatasan penalaran manusia pada masa itu, dan
c.        Hasrat ingin tahunya terpenuhi.
                Bagaimana tanggapan masyarakat setelah pengetahuan mereka yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan alat-alat ternyata berbeda dengan apa yang mereka tahu atau percaya berdasarkan mitos.
            Menurut Auguste Comte (1798-1857 M), dalam sejarah perkembangan jiwa manusia baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung dalam 3 tahap :
1)      Tahap teologi atau fiktif.
2)       Tahap filsafat atau metafisik.
3)       Tahap positif atau ilmiah ril.
            Pada masa teologi atau fiktif, manusia menciptakan mitos untuk memahami gejala alam yang ada di sekitarnya. Mitos adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pemikiran sederhana serta dikaitkan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan gaib. Dalam alam mitos ini, penalaran belum terbentuk, dan yang bekerja adalah daya khayal, imajinasi dan intuisi.
                Demikian juga manusia dengan objek masih menjadi satu antara subjek dengan objek belum ada jarak, sehingga pengetahuan yang diperoleh bersifat subjektif. Dahulu mitos sangat berpengaruh, bahkan sampai sekarang ini pun belum sepenuhnya hilang. Mencari jawaban atas sesuatu masalah dengan menghubungkannya dengan makhluk ghaib disebut berfikir secara Irasional. Tentu saja melalui ini, pengetahuan yang diperoleh belum dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
            Manusia secara terus menerus selalu mengembangkan pengetahuan. Mereka mengembangkan pengetahuan tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan yang menyangkut kelangsungan hidupnya saja. Mereka juga berusaha untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.


C.      Sejarah Pengetahuan Manusia
            Manusia selalu merasa ingin tahu, maka sesuatu yang belum terjawab dikatakan wallahualam, artinya Allah yang lebih mengetahui dan wallahualam bissawab yang artinya Allah mengetahui sebenarnya. Perkembangan lebih lanjut lanjut dari rasa ingin tahu manusia ialah untuk memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya, untuk itu manusia mereka-reka sendiri jawabannya. A. Comte menyatakan bahwa ada tiga tahap sejarah perkembangan manusia, yaitu tahap teologi (tahap metafisika), tahap filsafat dan tahap positif (tahap ilmu). Mitos termasuk tahap teologi atau tahap metefisika. Mitologi adalah pengetahuan tentang  mitos yang merupakan kumpulan cerita-cerita mitos. Cerita mitos sendiri ditularkan lewat tari-tarian, nyanyian, wayang dan lain-lain.
            Secara garis besar, mitos dibedakan atas tiga macam, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat dan legenda. Mitos timbul akibat keterbatasan pengetahuan, penalaran dan pancaindra manusia serta keinggintahuan manusia yang telah dipenuhi walaupun hanya sementara.
                Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman babylonia ±600-700 SM. Ia beranggapan alam semesta sebagai ruang setenagn bola dengan bumi datar sebagai tantangan dan langit dengan bintang-bintang sebagai atapnya yang menakjubkan mebgenal bidang ekleptika sebagai bidang edar matahari beredar ketemapat semula yaitu 25 hari (tahun kabisat) dan 365 hari (taun basitoh) juga mengenal kelompok bintang yaitu rasi scorpio, pisces, leo dan sebagainya. Rasi bintang saat ini berasal dari zaman ini pengetahuan dan ajaran babilonia setengahnya merupakan dugaan, imajinasi kepercayaan (mitos) disebut PSEUDO SCIENCE (sains palsu) artinya mirip sains tapi bkan sains sebenarnya terkadang terdapat pada pola piker orang yunani kuno (700-800 SM) ahlinfilosod astronom matematika dan teknik salah satunya keaneka ragaman benda di alam ini merupakan gejala alam saja dengan bahan dasarnya air, tetapi masih ada pendapat yang mengatakan bahwa benda itu diciptakan oleh dewa-dewa.
            Orang Babilonia menganut politeisme atau menyembah banyak dewa. Kepercayaan Babilonia banyak dipengaruhi oleh kepercayaan Sumeria. Orang Babilonia membangun banyak tempat pemujaan buat dewa yang mereka sembah. Terdapat banyak mitos yang mengiringi kepercayaan Babilonia seperti tentang penciptaan atau asal mula kehidupan di bumi. Sebagai contoh, Epos Gilgames, yang mengisahkan tindakan dewa-dewa dalam penciptaan, merupakan salah satu sastra penting Mesopotamia.
            Menurut kepercayaan Babilonia, semua dewa merupakan keturunan dari Apsu dan Tiamat. Menurut legenda, dewa-dewa Babilonia tidak bisa mengendalikan anak-anak mereka sehingga terjadi pemberontakan yang berakhir ketika Ea membunuh Apsu sementara Tiamat tidak melakukan apapun. Setiap generasi berikutnya dari dewa Babilonia dianggap lebih unggul dari dewa sebelumnya yang berpuncak pada Marduk, dewa kebijaksanaan, yang menjadi penguasa para dewa.
            Orang Babilonia merayakan kematian dan kelahiran kembali Marduk setiap tahun sebagai bagian dari kepercayaan mereka.Dikisahkan, Marduk akhirnya mengalahkan Tiamat dan setelah itu menciptakan dunia bersama dengan manusia yang hidup di dalamnya. Hubungan kekerabatan dewa-dewa Babilonia cukup kompleks. Namun ada beberapa yang layak disimak. Sin, misalnya, adalah dewa bulan, dan ayah dari Shamash, dewa orang miskin dan wisatawan. Nintu dan Anu keduanya menciptakan dewa, serta kemampuan menciptakan angin. Damkina dipercaya sebagai dewi bumi, dan merupakan istri dari Ea, dewa kebijaksanaan yang juga mengawasi seni. Mummu adalah dewa lain yang terkenal sebagai pengrajin. Enlil merupakan dewa udara yang juga mengendalikan cuaca. Ishtar, dewi cinta dan perang, menjadi terkenal karena merambah ke dunia bawah (underworld) untuk mendapatkan kekasihnya kembali. Menarik untuk dicatat bahwa sementara cinta dan perang tampaknya bertentangan di mata masyarakat modern, Ishtar bukan satu-satunya dewi cinta dan perang di kawasan Laut Tengah.

Tokoh pembaharu pada masa babilonia
1.      Anaximender (548-610 SM)
2.      Anaximenes (470-560SM)
3.      Herakledos (470-560)
4.      Pytagoras (500 SM)
5.      Erndedokles (430-480 SM)
6.      Plato (347-423)
7.      Aritoteles (322-348)
D.     Timbulnya Serta Kepuasan Mitos
            Tongkak sejarah pengamatan, pengalaman dan akal sehat manusia ialah Thales (624-546) seorang astronom, pakar dibidang matematika dan teknik. Ia berpendapat bahwa bintang mengeluarkan cahaya, bulan hanya mementulkan sinar matahari,dan lain-lain. Setelah itu muncul tokoh-tokoh perubahan lainnya seperti Anaximander, Anaximenes, Herakleitos, Pythagoras dan sebagainya.
            Berlandaskan pada pengetahuan tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Berdasarkan hal itulah mulailah dikembangkan pengetahuan praktis yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan sosialnya. Pengetahuan ini selanjutnya disebut sebagai teknologi yang merupakan penerapan IPA dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi, produksi dan industri secara tidak langsung akan diikuti dengan perubahan pola hidup manusia. Perubahan ini juga semakin mendorong rasa ingin tahu manusia ke arah yang lebih kompleks. Dengan demikian manusia akan terus berusaha mengetahui segala rahasia alam semesta yang belum terungkap
            Manusia sebagai mahluk yang berfikir dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami, dan menkjelaskan gejala-gejala alam. Rata-rata alam fikiran manusia dapat berkembang tidak hanya didapatkan dari objek yang diamati melalui pancaindra saja, tetapi seperti yang berhubungan dengan baik atau buruk, benar atau salah dan lain-lainnya.






BAB III
PENUTUP
Simpulan

            Ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu. Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang. Akumulasi dari segala yang mereka dapat dari usahanya mendapatkan jawaban dari keingintahuannya itu merupakan “pengetahuan”-nya. Pengetahuan manusia selalu berkembang. Ia selalu tidak puas dengan fakta tetapi ingin tahu juga tentang “apa,” “bagaimana” dan “mengapa” demikian.
            Puncak hasil pemikiran mitos terjadi pada zaman Babylonia (700-600 SM) yaitu horoskop (ramalan bintang), eliptika (bidang edar matahari) dan bentuk alam semesta yang menyerupai ruangan setengah bola dengan bumi datar sebagai lantainya sedangkan langit-langit dan bintangnya merupakan atap.
            Berlandaskan pada pengetahuan tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan pemenuhan kebutuhan hidupnya.
            Rasa ingin tahu tersebut menyebabkan manusia menyelidiki persoalan-persolan yang akan menghasilkan jawaban. Demikianlah pikiran manusia berkembang dari pikiran primitif sampai kepikiran yang modern.Dengan adanya ilmu pengetahuan dan rasa ingin tahu pada diri manusia, maka diharapkan setiap individu mengembangkan rasa ingin tahu tersebut menjadi penelitian-penelitian yang akan menghasilkan penemuan-penemuan yang berguna bagi ilmu pengetahuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar