Kebudayaan Islam Dan Barat
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Mata Kuliah
Ilmu Alamiah
Dasar – kelas A – Semester Ganjil (III) – Program Studi Pendidikan
Guru Raudhatul Athfal – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Dosen:
H. Yayan Carlian, M.Pd.
Disusun oleh :
Alis Siti Nuraeni 1142100004
Fitri Novianti
1142100028
Fitrah Fairus 1142100027
Bandung
2015
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah
yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah berjudul “ILMU PENGETAHUAN ALAM”. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penulis tidak akan mampu menyelesaikannya
dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yakni Nabi Muhammad saw.
Penulisan makalah ini dimaksudkan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar pada semester
Ganjil (III) tahun akademik 2015 yang dibimbing oleh Bapak H. Yayan Carlian,
M.Pd.
Penulis menyadari bahwa makalah ini
tidak akan terwujud tanpa adanya
bimbingan, bantuan, dorongan, dan doa’a restu dari berbagai pihak yang tidak
bisa penulis sebutkan satu persatu. Semoga makalah ini bermanfaat bagi banyak
pihak dan juga dapat menambah wawasan ilmu mengenai ilmu tentang.
Bandung,
September 2015
Penulis,
DAFTRAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang......................................................................................... 1-2
B.
Rumusan
Masalah.................................................................................... 2
C.
Tujuan…………………………………………………………………...2
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Lahirnya
Ilmu Alamiah Dasar.................................................................. 2
B. Kriteria ilmiah.......................................................................................... 2
C.
Perkembangan
IPA.................................................................................. 3
D.
Perkembangan Alam Pikiran Umat Islam……………………………… 8-9
BAB III
PENUTUP
Simpulan ................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................
11
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Suatu hal lumrah jika kebudayaan yang
mundur akan belajar dari kebudayaan yang maju. Adalah alami
jika suatu kebudayaan yang terbelakang mengadopsi konsep-konsep kebudayaan yang lebih
maju. Tidak ada kebudayaan di dunia ini yang berkembang tanpa proses interaksi dengan
kebudayaan asing. Ketika peradaban Islam unggul dibanding peradaban Eropa, misalnya,
mereka telah meminjam konsep-konsep penting dalam Islam, akan tetapi, tidak berarti bahwa semua kebudayaan dapat mengambil semua
konsep dari kebudayaan lain. Setiap kebudayaan
memiliki identitas, nilai, konsep dan ideologinya sendiri-sendiri
yang disebut dengan worldview (pandangan
hidup).
Suatu kebudayaan dapat meminjam
konsep-konsep kebudayaan lain karena memiliki pandangan
hidup. Namun suatu kebudayaan tidak dapat meminjam sepenuhnya (mengadopsi) konsep-konsep
kebudayaan lain, sebab dengan begitu ia akan kehilangan identitasnya. Peminjaman konsep dari suatu kebudayaan mengharuskan adanya proses
integrasi dan internalisasi konseptual. Namun dalam proses itu, unsur-unsur
pokoknya berperan sebagai filter yang menentukan diterima tidaknya suatu
konsep. Hal ini berlaku dalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, yaitu
ketika Islam meminjam khazanah pemikiran Yunani, India, Persia, dan lain-lain.
Pelajaran yang penting dicatat dalam hal ini bahwa ketika para ulama meminjam
konsep-konsep asing, mereka berusaha mengintegrasikan konsep-konsep asing ke dalam
pandangan hidup Islam dengan asas pandangan hidup Islam. Memang, proses ini
tidak bias berlangsung sekali jadi. Perlu proses koreksi-mengoreksi dan itu
berlangsung dari generasi ke generasi.
Pada zaman awal perkembangan islam, sebenarnya kaum muslimin
tidak bermaksud mengutip pemikiran filsafat dari pihak manapun juga. Mereka
tidak menarauh perhatian pada saat soal tersebut bahkan sama sekali tidak
berniat mengutip ilmu apapun juga dan tidak pernah memikirkannya.
Di era modern dan post-modern sekarang ini, pemikiran dan kebudayaan Barat mengungguli kebudayaan-kebudayaan
lain, termasuk peradaban Islam. Namun tradisi pinjam-meminjam yang terjadi
telah bergeser menjadi proses adopsi, yakni mengambil penuh konsep-konsep asing,
khususnya Barat, tanpa proses adaptasi atau integrasi. Apa yang dimaksud dengan
konsep di sini bukan dalam kaitannya dengan sains dan teknologi yang bersifat
eksak, tetapi lebih berkaitan dengan konsep keilmuan, kebudayaan, sosial, dan
bahkan keagamaan.
Dalam konteks pembangunan peradaban Islam sekarang ini, proses adaptasi
pemikiran merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Namun sebelum melakukan
hal itu diperlukan suatu kemampuan untuk menguasai pandangan hidup Islam dan
sekaligus Barat, esensi peradaban Islam dan kebudayaan Barat. Dengan
demikian, seorang cendekiawan dapat berlaku adil
terhadap keduanya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
terjadinya pertemuan kebudayaan islam dan barat?
2.
Bagaimana
penyebaran ilmu pengetahuan Dunia Barat (Erofa)?
3.
Bagaimana
sejarah kebudayaan Yunani dengan kebudayaan Islam?
C.
Tujuan
Untuk mengetahui peristiwa terjadinya pertemuan kebudayaan Islam
dan Barat, serta penyebaran ilmu pengetahuan oleh dunia Barat (Erofa), juga
pertemuan kebudayaan Yunani dengan kebudayaan islam dan perkembanagan alam
pikiran umat islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pertemuan Kebudayaan Islam dan
Barat
Kebudayaan Modern pada dasarnya
adalah kebudayaan barat, pada kenyataannya kebudayaan ini melanda seluruh dunia
dan merupakan sebuah gelombang raksasa yang menyapu segala sesuatu yang
menghadangnya, di dukung oleh bangsa-bangsa tertentu yang bukan bangsa barat
ikut berpartisipasi aktif menyebarkan dan mengembangkan kebudayaan barat
tersebut. Untuk mengemukakan asal usul kebudayaan barat, kita dapat menjajaki
berdasarkan perkembangan histories, kebudayaan modern ini bermula dengan
humanisme renaisence diteruskan oleh rasionalisme abad ke 17 dan 18, dan
memuncak jaman saintisme dan materialisme abad 19 dan 20. Jadi kebangkitan
kebudayaan modern ini perlahan-lahan dan penjegalannya terhadap agama merupakan
kekuatan yang memberikan motivasi kepada manusia dan masyarakat, telah terjadi
secara sembunyi-sembunyi.dengan demikian agama Kristen telah sanggup
menyesuaikan diri dengan fenomena ini. Setidaknya secara lahiriyah, agama
Kristen dalam bentuk protestannya yang memperkenalkan prinsip. “ penyelidikan
bebas” ke dalam persoalan keagamaan. Kristen itu sendiri adalah salah satu di
antara faktor-faktor yang menciptakan mentalis modern.pada zaman sebelum
reformasi, karena kesediaan Kristen telah menabur benih-benih aliensi terhadap
persoalan-persoalan agama, sejarah agama Kristen di barat dan sejarah
kebudayaan modern. Membentuk sebuah kontinuitas. Tanpa iterufsi-iterufsi yang
terlihat. Pandangan-pandangan Kristen dan barat sesudah kedatangan Kristen
merasa diri mereka dibebani oleh misi-misi universal untuk menyelamatkan umat
manusia, dalam berbagai hal adalah sama. Jika pada waktu sebelumnya yang
dipentingkan adalah” memenangkan dunia demi kristus” maka sekarang adalah “
memenangi dunia demi Modernisasi” – yaitu moderenisasi yang sesuai dengan model
barat yang dengan semangat yang diagung-agungkan sebagai satu-satunya jalan
yang pasti bagi keselamatan umat manusia. Namun bagi umat islam kebudayaan
modern merupakan sebuah fenomena aneh yang bermuka dua. Kebudayaan modern aneh
karena dasar metafisisnya dan arah karena asal-usulnya geografis dan
historiesnya. Dunia islam telah dipaksa berkenalan dengan dunia modern tanpa
cukup persiapan yang ditimbulkan oleh sebuah proses perubahan histories dari
pihak pribumi. Bagi dunia islam modernisasi telah berubah menjadi sebuah kekuatan
asing yang mengganggu. Banyak peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dunia
islam selama dua abad ini merupakan akibat dari perkembangan yang sama sekali
berdiri sendiri.untuk memandang sejarah islam pada waktu-waktu belakang
semata-mata sebagai bentuk “respon-respon kaum muslimin terhadap barat”.
Seperti yang biasa dilakukan oleh kaum orientalis adalah salah. Dan pandangan
ini akibat dari sistim ethnocentris. Walaupun demikian tidak dapat disangkal
sebagian besar jerih payah kaum muslimin selama lebih dari satu abad telah
diarahkan untuk menentang gangguan asing atau kebudayaan barat. Gangguan ini
bermula sebagai akibat dari kebutuhan empiris, ketika pasukan dan usaha-usaha
dagang Eropa memberondong dunia Islam kepada status jajahan atau setengah jajahan,
pada zaman sekarang ini setelah dominasi lahirlah Imprealisme itu berakhir.
Kesediaan untuk menerima kebudayaan modern masih terus berlangsung dan
pendefinisian hubungan dan modernisasi yang dapat diterima tetap merupakan
masalah utama bagi banyak para tokoh kaum muslimin. Berbagai pemecahan telah
diberikan. Reaksi awal kebanyakan kaum muslimin terhadap perkenalan mereka yang
pertama kali dengan barat modern, pada abad sembilan belas adalah penolakan
total dan instinktif, bahkan terhadap ciptaan –ciptaan mereka yang biasa mesin
cetak, sikap ekstrim yang berlawanan ini dengan sikap di atas pada saat
sekarang adalah yang ditunjukan oleh sipendobrak yang berasal dari kaum umat
muslim sendiri. Para pendobrak ini menghendaki agar kita meninggalkan seluruh ajaran-ajaran
Islam, baik sebagai kultur maupun sebagai agama. Dan menelan mentah-mentah
norma-norma dan methode-methode barat di dalam semua bidang kehidupan. Diantara
dua sikap yang bertentangan terdapat berbagai formula yang berusaha dengan satu
atau lain cara melangkahi jurang pemisah antara tradisi islam dengan kebudayaan
barat. Banyak tokoh-tokoh muslim telah menyinggung pengaruh normative yang
diberikan islam kepada sumber kebudayaaan Eropa setelah abad pertengahan sebuah
pengaruh yang dipancarkan dari Spanyol dan Cicilia yang pada waktu itu berada
dibawah kekuatan kaum muslimin. Tokoh –tokoh ini berpendapat bahwa kebudayaan
modern itu pada dasarnya berasal dari kebudayaan muslim sendiri betapapun
perkembangan historisnya. Sikap ini muncul pada abad 19 didalam pemikiran
pemikiran dan tulisan-tulisan dari dua tokoh yang umum di anggap sebagai
pelopor Renaissance Islam yaitu Jamel al Dien Asadabadi ( Afgahani ) dari
Persia dan muridnya Muhammad abduh dari Mesir. Sikap ini mempunyai popularitas
yang abadi sebagai sebuah formula yang mengijinkan berasimilasi kebudayaan
barat. Misalnya tokoh-tokoh ini mengemukakan bahwa rasionalisme, demokrasi
pemerintahan, parlementer, emansipasi kaum wanita, dan bahkan teori evolusi,
terdapat di dalam ajaran Islam, bahkan dalam bentuk yang sempurna. Dan walaupun
bentuknya seperti konsepyang di import, sebenarnya ini merupakan konsep-konsep
islam yang dikembalikan lagi ke dunia Islam. Altaf Gauhar mengatakan dalam
bukunya bahwa nilai-nilai abad 20 dapat dibenarkan oleh Islam, mereka
mengabaikan kontradiksi, yang pokok antara mentalis modern dengan agama yang
telah kita tunjukan pada awal bahasan tadi. Pemikir Islam lainnya berpendapat
perlu memadu padankan unsur pilihan warisan dari kebudayaan Islam dan
kebudayaan lainya. Tetapi mereka hanya sedikit sekali memberi petunjuk bagai
mana memilih unsur-unsur itu dilakukan. Supaya unsur-unsur tersebut dapat
diterapkan dikalangan masyarakat luas. Mereka telah membagi kebudayaan modern
kedalam dimensi materil dan non materil. Yang mana unsur materil mereka terima sedangkan yang non
materil mereka harus tolak karena sebagai unsur asing. Hanya sedikit manusia
yang menikmati agama dan warisan kebudayaanya tanpa sedikit banyak menyadari
bahwa dalam waktu bersamaan adanya sebuah gaya berbeda dan berdasarkan
pandangan hidup yang bertentangan dengan perspektif Islam. Dengan adanya
ketidak selarasan respon kaum muslimin, terhadap kebudayaan modern dan hampir
tak terkendalinya modernisasi dalam agama islam, kita dapat menarik kesimpulan
bahwa kebudayaan modern benar-benar merupakan sebuah tantangan intelektuil bagi
Islam, namun tantangan ini tidak menjadi masalah seperti, keadaan psikologis
yang tercipta di dalam diri kaum muslimin karena pertemuan mereka dengan
kebudayaan modern, korban pertama dari pertemuan kebudayaan ini adalah hegemoni
politik, ekonomi, militer kaum muslimin di negara mereka sendiri. Korban kedua
adalah keyakinan mereka terhadap diri sendiri. Keyakinan yang instinktif
terhadap kebenaran dan kesempurnaan agama dan tradisi-tradisi kulturil mereka.
Akibat dekatnya pusat dunia islam dengan eropa, perselisihan antara kaum
muslimin dengan barat senantiasa berkesinambungan, dan dunia telah menjadi
sasaran utama keagresifan barat. Kawasan ini terus menderita di bawah tekanan
imprealisme barat. Mengalah karena keadaan histories kepada suatu keadaan
psikologis tertentu bukan berarti kekalahan dalam tantangan filosofis, sebuah
tantangan intelektual kebudayaan dari kebudayaan modern, hal ini disebabkan
kita mempunyai pengertian yang kuno terhadap penafsiran dari kebudayaan modern,
sebagai kebudayaan yang sifatnya begitu meyakinkan, dinamis dan menggoda.
Dengan Islam sebagai tandingannya yang lumpuh atau pasif. Kebudayan Modern
sedang kehilangan kekompakan dan keyakinan seperti halnya kaum muslimin dan
bangsa-bangsa yang bukan barat merasa kurang yakin kepada diri sendiri bila
berhadapan dengan kekuatan barat, keyakinan yang naïf kepada agama kemajuan
yang palsu, kepada kesempurnaan yang rasionalitas sebagai alat untuk memahami
kepada keunggulan kebudayaan barat. Sebagai puncak sejarah manusia semua ini
menjadi suram begitu kita semakin menyadari bahwa masyarakat dan
individu-individu di dunia modern berhadapan dengan problema-problema yang
yampaknya tak habis-habis dan tak dapat dipecahkan. Adalah ironis sekali bahwa
semakin kurangnya keyakinan dan kekokohan didalamkebudayaaan barat ini justru
terjadi pada waat westrenisasi, seluruh dunia bergerak dengan kecepatan yang
tak pernah terjadi sebelumnya. Sebaliknya islam jangan dipandang sebagai penerima
tantangan yang pasif sebagai pihak yang perananya didalam pergaulanya antar
kebudayaan hanya terbatas dalam bentuk reaksi-reaksi saja. Islam pada dasarnya
adalah sebuah ajaran Allah mengenai hakikat kebenaran yang realitas, yang
disertai dengan sebuah methode yang bersumber dari allah, untuk menumbuhkan
kesadaran terhadap kebenaran realitas didalam setiap aktipitas kehidupan
manusia, dengan allah sebagai sumbernya dan dengan hakikat kebenaranya maka
islam bila ditinjau dari sudut pandangan yang tertentu adalah keras obyektif
dan netral, sedang kebenaran dan keotentikanya sama sekali bebas dari pemberan
atau penyanggahan manusia. Tantangan yang diajukan islam kepada mentalitas
modern itu adalah beraneka ragam, yang paling penting dan radikal diantaranya adalah
pernyataan tertinggi mengenai kreatifitas dan kekuasaan allah dan mengenai kehadiranya
yang tak dapat di mungkiri didalam seluruh alam ciptaanya, allah telah
menciptakan kita dank arena ia telah menciptakan kita maka ia memelihara kita.
B. Penyebaran Ilmu Pengetahuan oleh Dunia Barat (Eropa)
Catatan mengenai peradaban manusia yang paling awal
tercatat berasal dari timur tengah, persisnya Mesir pada zaman prasejarah,
nenek moyang manusia modern di mesir sudah mengenal bahasa terbukti dengan peninggalan
tulisan-tulisan yang diukir di batu-batu di dalam goa. Sejarah mencatat bahwa
bangsa mesir kuno sudah mengenal ilmu bintang, ilmu bumi, arsitektur dsb.
Bangsa mesir kemudian juga mengembangkan phapyrus (sejenis kulit kayu) yang
dijadikan bahan tulis (3000 SM). Pada tahun 105 M Ts’ailun dari Cina menemukan
kertas menggunakan teknik yang tergolong canggih pada masa itu, bangsa cina
memproduksi kertas dari pohon bambu yang dihancurkan, kemudian memanfaatkan
seratnya untuk diproses dan dijadikan lembar tipis bernama kertas. Sejarah
mencatat bahwa sejak itu Cina memimpin peradaban manusia dan sebagai dampak
dari penemuam kertas ini, bangsa Cina melahirkan banyak penemuan-penemuan baru
seperti Kompas dan mesiu dll. Penemuan-penemuan besar yang mempengaruhi
kemajuan peradaban manusia ini tercatat dalam “100 tokoh yang paling
berpengaruh pada sejarah umat manusia “. Pada tahun 1439 seorang Jerman bernama
Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak. Penemuan mesin cetak Gutenberg
memberi dampak pada ledakan Ilmu pengetahuan di Eropa dan penemuan-penemuan
baru di berbagai bidang. Bangsa Eropa kemudian tercatat menggantikan Cina
menjadi pemimpin Ilmu pengetahuan dan peradaban manusia hingga sekarang.
Perjalanan sejarah manusia membuktikan bahwa kemajuan peradaban Manusia dipicu
perkembangan Ilmu Pengetahuan. Perkembangan Ilmu Pengetahuan tidak terlepasa
dari cara penyebaran dan penyampaian Informasi dan Ilmu Pengetahuan itu
sendiri. Bangsa Cina berhasil mengejar ketertinggalan dari bangsa Mesir ketika
Ts’Ai Lun menemukan kertas dan merevolusioner cara Distribusi Ilmu Pengetahuan.
Demikian juga penemuam mesin cetak oleh Bangsa Eropa kembali merevolusioner
cara mencetak Buku dan mendistribusikan Ilmu Pengetahuan sehingga membuat
Bangsa Eropa menjadi pemimpin selama berabad-abad lamanya. Buku adalah jendela
Ilmu, sebuah kiasan yang dipercaya secara turun temurun. Buku memainkan perananan penting
dalam penyebaran Ilmu Pengetahuan, dan membawa peradaban Manusia kearah lebih
maju dan lebih modern.
C.
Pertemuan Kebudayaan Yunani
dengan Kebudayaan Islam
Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani
yang masuk dalam pemikiran Islam, diakui banyak kalangan telah mendorong
perkembangan filasafat islam menjadi makin pesat. Namun demikian, seperti
dikatakan Oliver Leaman, adalah suatu kesalahan besar jika menganggap bahwa
filsafat Islam bermula dari penerjemahan teks-teks Yunani tersebut atau hanya
nukilan dari Filsafat Aristoteles (384-322 SM) seperti dituduhkan Renan, atau
dari Neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem. Pertama, bahwa belajar atau
berguru tidak berarti meniru atau membebek semata mesti dipahami bahwa
kebudayaan Islam menembus berbagai macam gelombang dimana ia bergumul dan
berinteraksi. Pergumulan dan interaksi ini melahirkan pemikiran-pemikiran baru.
Jika kebudayaan islam tersebut terpengaruh oleh Kebudayaan Yunani, mengapa
tidak terpengaruh oleh peradaban India dan Persia misalnya ?, artinya
Tranformasi dan peminjaman beberapa pemikiran tidak harus mengkonsekuensikan
perbudakan dan penjiplakan, kedua, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa
pemikiran rasional telah dahulu mapan dalam masyarakat Muslim sebelum
kedatangan filsafat Yunani. Meski karya-karya Yunani mulai diterjemahkan pada
masa kekuasaan Bani Umayyah, tetapi buku-buku Filsafatnya yang kemudian
melahirkan Filosof pertama Muslim yakni Al-Kindi (801-873 M), baru mulai
digarap pada masa dinasti Abbasyiah khususnya pada masa Al-makmun (811-833 M),
oleh orang-orang seperti Yahya Al-balmaki ( wafat 857 M), Yuhana Ibnu Musyawaih
dan Hunain Ibnu Ishaq. Pada masa-masa ini sistim berfikir rasional telah
berkembang pesat dalam masyarakat Intelektual Arab-Islam, yakni dalam Fiqih dan
Kalam. Semua itu menunjukkan bahwa sebelum dikenal adanya logika dan filsafat
Yunani telah ada model pemikiran filosofis yang berjalan baik dalam masyarakat
Islam, yakni dalam soal-soal Teologis dan kajian hukum. Bahkan pemikiran
Rasional dari Teologi dan Hukum inilah yang telah berhasa menyiapkan landasan
bagi diterima dan berkembangnya logika dan Filsafat Yunani dalam Islam.
D. Perkembangan Alam Pikiran Umat Islam
Perkembangn
Ilmu Pengetahuan di dunia Islam, pengetahuan akal dan intelektual merupakan
suatu dorongan intristik dan inheren dalam ajaran islam. Pada masa daulah
Abbasiah, Ibukota Baghdad menjadi pusat Intelektual Muslim, dimana terjadi pengembangan
Ilmu Pengetahuan dan kebudayaan Islam. Sekolah-sekolah dan Akademik muncul
disetiap pelosok. Perpustakaan-perpustakaan umum yang besar didirikan dan
terbuka untuk siapapun sehingga pemikiran Filosofis-filosofis besar zaman klasik
dipelajari berdampingan dengan Ilmu Islam. Bila dianalisis lebih lanjut sampai
periode-periode ini kaum Intelektual Islam identik dengan Ulama. Apalagi bila
diingat bahwa Ulama dalam Pengertian aslinya orang berilmu. Ilmu yang
dikuasainya itu tidak terbatas pada Ilmu Agama saja. Pendapat ini bisa dipegang karena
kegiatan Intelektual itu tumbuh karena manusia sibuk dengan urusan Agama.
Mereka ini disebut intelektual atau Ulama klasik yang oleh Shill sebagai
intelektual lama atau intelektual sacral dari Abad Pertengahan. Demikianlah
sejarah perkembangan Intelektual Muslim pada masa yang disebut Harun Nasution
sebagai periode klasik (650-1250) yang merupkan zaman kemajuan, dimasa inilah
berkembangnya dan munculnya ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun
Non Agama dan Kebudayaan Islam. Zaman inilah yang menghasilkan Ulama besar
seperti Imam Malik, Abu Hanafi, Imam As-syafi’i dan Imam Ibnu Hambali dalam
Bidang Hukum, Teologi Zunnunal Misri, Abu Yzaud Al-Butami dan Al-Hallaj dalam
mistimisme atau tasawuf, dll. Pada masa kejayaan ini perkembangan intelektual
muslim mencapai puncaknya sehingga cenderung membentuk pemikiran bebas (
rasionalisme ). Keadaan ini menimbulkan pertentanagn dan kecemasan dikalangan
sebagian kaum intelektual muslim, pemikiran ini ditentang oleh Al-Ghazali
(1059-1111). Sampai sekarang diakui bahwa periode sejarah peradaban Islam serta
pendidikan yang paling cemerlang terjadi pada masa pemerintahan daulah
Abbasyiah di Baghdad (750-1285 M) dan Daulah Umayyah di Spanyol (711-1492 M).
BAB III
PENUTUP
Simpulan
o
Islam pada dasarnya adalah sebuah ajaran Allah mengenai
hakikat kebenaran yang realitas, yang disertai dengan sebuah methode yang
bersumber dari allah, untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kebenaran realitas
didalam setiap aktipitas kehidupan manusia, dengan allah sebagai sumbernya dan
dengan hakikat kebenaranya maka islam bila ditinjau dari sudut pandangan yang
tertentu adalah keras obyektif dan netral, sedang kebenaran dan keotentikanya
sama sekali bebas dari pemberan atau penyanggahan manusia.
o Buku adalah jendela Ilmu, sebuah
kiasan yang dipercaya secara turun temurun. Buku memainkan perananan penting
dalam penyebaran Ilmu Pengetahuan, dan membawa peradaban Manusia kearah lebih
maju dan lebih modern.
o Yunani telah ada model pemikiran
filosofis yang berjalan baik dalam masyarakat Islam, yakni dalam soal-soal
Teologis dan kajian hukum. Bahkan pemikiran Rasional dari Teologi dan Hukum
inilah yang telah berhasa menyiapkan landasan bagi diterima dan berkembangnya
logika dan Filsafat Yunani dalam Islam.
o Sampai sekarang diakui bahwa periode
sejarah peradaban Islam serta pendidikan yang paling cemerlang terjadi pada
masa pemerintahan daulah Abbasyiah di
o Baghdad (750-1285 M) dan Daulah
Umayyah di Spanyol (711-1492 M).
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar