Rabu, 16 Desember 2015

Kebudayaan Islam Dan Barat



Kebudayaan Islam Dan Barat
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Mata Kuliah Ilmu Alamiah
Dasar – kelas A – Semester Ganjil (III) – Program Studi Pendidikan
Guru Raudhatul Athfal – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Dosen:
H. Yayan Carlian, M.Pd.













 









Disusun oleh :
Alis Siti Nuraeni                                 1142100004
Fitri Novianti                                      1142100028
Fitrah Fairus                                        1142100027

Bandung

2015
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah berjudul “ILMU PENGETAHUAN ALAM”. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penulis tidak akan mampu menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad saw.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar pada semester Ganjil (III) tahun akademik 2015  yang dibimbing oleh Bapak H. Yayan Carlian, M.Pd.
Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak akan terwujud  tanpa adanya bimbingan, bantuan, dorongan, dan doa’a restu dari berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Semoga makalah ini bermanfaat bagi banyak pihak dan juga dapat menambah wawasan ilmu mengenai ilmu tentang.











Bandung, September 2015


Penulis,
DAFTRAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang......................................................................................... 1-2
B.     Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C.     Tujuan…………………………………………………………………...2
            BAB II
PEMBAHASAN
A.    Lahirnya Ilmu Alamiah Dasar.................................................................. 2
B.     Kriteria ilmiah.......................................................................................... 2
C.     Perkembangan IPA.................................................................................. 3
D.    Perkembangan Alam Pikiran Umat Islam……………………………… 8-9
BAB III
PENUTUP
Simpulan ................................................................................................. 10
             DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 11







BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Suatu hal lumrah jika kebudayaan yang mundur akan belajar dari kebudayaan yang maju. Adalah alami jika suatu kebudayaan yang terbelakang mengadopsi konsep-konsep kebudayaan yang lebih maju. Tidak ada kebudayaan di dunia ini yang berkembang tanpa proses interaksi dengan kebudayaan asing. Ketika peradaban Islam unggul dibanding peradaban Eropa, misalnya, mereka telah meminjam konsep-konsep penting dalam Islam, akan tetapi, tidak berarti bahwa semua kebudayaan dapat mengambil semua konsep dari kebudayaan lain. Setiap kebudayaan memiliki identitas, nilai, konsep dan ideologinya sendiri-sendiri yang disebut dengan worldview (pandangan hidup).
Suatu kebudayaan dapat meminjam konsep-konsep kebudayaan lain karena memiliki pandangan hidup. Namun suatu kebudayaan tidak dapat meminjam sepenuhnya (mengadopsi) konsep-konsep kebudayaan lain, sebab dengan begitu ia akan kehilangan identitasnya. Peminjaman konsep dari suatu kebudayaan mengharuskan adanya proses integrasi dan internalisasi konseptual. Namun dalam proses itu, unsur-unsur pokoknya berperan sebagai filter yang menentukan diterima tidaknya suatu konsep. Hal ini berlaku dalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, yaitu ketika Islam meminjam khazanah pemikiran Yunani, India, Persia, dan lain-lain. Pelajaran yang penting dicatat dalam hal ini bahwa ketika para ulama meminjam konsep-konsep asing, mereka berusaha mengintegrasikan konsep-konsep asing ke dalam pandangan hidup Islam dengan asas pandangan hidup Islam. Memang, proses ini tidak bias berlangsung sekali jadi. Perlu proses koreksi-mengoreksi dan itu berlangsung dari generasi ke generasi.
Pada zaman awal perkembangan islam, sebenarnya kaum muslimin tidak bermaksud mengutip pemikiran filsafat dari pihak manapun juga. Mereka tidak menarauh perhatian pada saat soal tersebut bahkan sama sekali tidak berniat mengutip ilmu apapun juga dan tidak pernah memikirkannya.
Di era modern dan post-modern sekarang ini, pemikiran dan kebudayaan Barat   mengungguli kebudayaan-kebudayaan lain, termasuk peradaban Islam. Namun tradisi pinjam-meminjam yang terjadi telah bergeser menjadi proses adopsi, yakni mengambil penuh konsep-konsep asing, khususnya Barat, tanpa proses adaptasi atau integrasi. Apa yang dimaksud dengan konsep di sini bukan dalam kaitannya dengan sains dan teknologi yang bersifat eksak, tetapi lebih berkaitan dengan konsep keilmuan, kebudayaan, sosial, dan bahkan keagamaan.
Dalam konteks pembangunan peradaban Islam sekarang ini, proses adaptasi pemikiran merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Namun sebelum melakukan hal itu diperlukan suatu kemampuan untuk menguasai pandangan hidup Islam dan sekaligus Barat, esensi peradaban Islam dan kebudayaan Barat. Dengan demikian, seorang cendekiawan dapat berlaku adil terhadap keduanya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana terjadinya pertemuan kebudayaan islam dan barat?
2.      Bagaimana penyebaran ilmu pengetahuan Dunia Barat (Erofa)?
3.      Bagaimana sejarah kebudayaan Yunani dengan kebudayaan Islam?

C.    Tujuan
Untuk mengetahui peristiwa terjadinya pertemuan kebudayaan Islam dan Barat, serta penyebaran ilmu pengetahuan oleh dunia Barat (Erofa), juga pertemuan kebudayaan Yunani dengan kebudayaan islam dan perkembanagan alam pikiran umat islam.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pertemuan  Kebudayaan Islam dan Barat
Kebudayaan Modern pada dasarnya adalah kebudayaan barat, pada kenyataannya kebudayaan ini melanda seluruh dunia dan merupakan sebuah gelombang raksasa yang menyapu segala sesuatu yang menghadangnya, di dukung oleh bangsa-bangsa tertentu yang bukan bangsa barat ikut berpartisipasi aktif menyebarkan dan mengembangkan kebudayaan barat tersebut. Untuk mengemukakan asal usul kebudayaan barat, kita dapat menjajaki berdasarkan perkembangan histories, kebudayaan modern ini bermula dengan humanisme renaisence diteruskan oleh rasionalisme abad ke 17 dan 18, dan memuncak jaman saintisme dan materialisme abad 19 dan 20. Jadi kebangkitan kebudayaan modern ini perlahan-lahan dan penjegalannya terhadap agama merupakan kekuatan yang memberikan motivasi kepada manusia dan masyarakat, telah terjadi secara sembunyi-sembunyi.dengan demikian agama Kristen telah sanggup menyesuaikan diri dengan fenomena ini. Setidaknya secara lahiriyah, agama Kristen dalam bentuk protestannya yang memperkenalkan prinsip. “ penyelidikan bebas” ke dalam persoalan keagamaan. Kristen itu sendiri adalah salah satu di antara faktor-faktor yang menciptakan mentalis modern.pada zaman sebelum reformasi, karena kesediaan Kristen telah menabur benih-benih aliensi terhadap persoalan-persoalan agama, sejarah agama Kristen di barat dan sejarah kebudayaan modern. Membentuk sebuah kontinuitas. Tanpa iterufsi-iterufsi yang terlihat. Pandangan-pandangan Kristen dan barat sesudah kedatangan Kristen merasa diri mereka dibebani oleh misi-misi universal untuk menyelamatkan umat manusia, dalam berbagai hal adalah sama. Jika pada waktu sebelumnya yang dipentingkan adalah” memenangkan dunia demi kristus” maka sekarang adalah “ memenangi dunia demi Modernisasi” – yaitu moderenisasi yang sesuai dengan model barat yang dengan semangat yang diagung-agungkan sebagai satu-satunya jalan yang pasti bagi keselamatan umat manusia. Namun bagi umat islam kebudayaan modern merupakan sebuah fenomena aneh yang bermuka dua. Kebudayaan modern aneh karena dasar metafisisnya dan arah karena asal-usulnya geografis dan historiesnya. Dunia islam telah dipaksa berkenalan dengan dunia modern tanpa cukup persiapan yang ditimbulkan oleh sebuah proses perubahan histories dari pihak pribumi. Bagi dunia islam modernisasi telah berubah menjadi sebuah kekuatan asing yang mengganggu. Banyak peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dunia islam selama dua abad ini merupakan akibat dari perkembangan yang sama sekali berdiri sendiri.untuk memandang sejarah islam pada waktu-waktu belakang semata-mata sebagai bentuk “respon-respon kaum muslimin terhadap barat”. Seperti yang biasa dilakukan oleh kaum orientalis adalah salah. Dan pandangan ini akibat dari sistim ethnocentris. Walaupun demikian tidak dapat disangkal sebagian besar jerih payah kaum muslimin selama lebih dari satu abad telah diarahkan untuk menentang gangguan asing atau kebudayaan barat. Gangguan ini bermula sebagai akibat dari kebutuhan empiris, ketika pasukan dan usaha-usaha dagang Eropa memberondong dunia Islam kepada status jajahan atau setengah jajahan, pada zaman sekarang ini setelah dominasi lahirlah Imprealisme itu berakhir. Kesediaan untuk menerima kebudayaan modern masih terus berlangsung dan pendefinisian hubungan dan modernisasi yang dapat diterima tetap merupakan masalah utama bagi banyak para tokoh kaum muslimin. Berbagai pemecahan telah diberikan. Reaksi awal kebanyakan kaum muslimin terhadap perkenalan mereka yang pertama kali dengan barat modern, pada abad sembilan belas adalah penolakan total dan instinktif, bahkan terhadap ciptaan –ciptaan mereka yang biasa mesin cetak, sikap ekstrim yang berlawanan ini dengan sikap di atas pada saat sekarang adalah yang ditunjukan oleh sipendobrak yang berasal dari kaum umat muslim sendiri. Para pendobrak ini menghendaki agar kita meninggalkan seluruh ajaran-ajaran Islam, baik sebagai kultur maupun sebagai agama. Dan menelan mentah-mentah norma-norma dan methode-methode barat di dalam semua bidang kehidupan. Diantara dua sikap yang bertentangan terdapat berbagai formula yang berusaha dengan satu atau lain cara melangkahi jurang pemisah antara tradisi islam dengan kebudayaan barat. Banyak tokoh-tokoh muslim telah menyinggung pengaruh normative yang diberikan islam kepada sumber kebudayaaan Eropa setelah abad pertengahan sebuah pengaruh yang dipancarkan dari Spanyol dan Cicilia yang pada waktu itu berada dibawah kekuatan kaum muslimin. Tokoh –tokoh ini berpendapat bahwa kebudayaan modern itu pada dasarnya berasal dari kebudayaan muslim sendiri betapapun perkembangan historisnya. Sikap ini muncul pada abad 19 didalam pemikiran pemikiran dan tulisan-tulisan dari dua tokoh yang umum di anggap sebagai pelopor Renaissance Islam yaitu Jamel al Dien Asadabadi ( Afgahani ) dari Persia dan muridnya Muhammad abduh dari Mesir. Sikap ini mempunyai popularitas yang abadi sebagai sebuah formula yang mengijinkan berasimilasi kebudayaan barat. Misalnya tokoh-tokoh ini mengemukakan bahwa rasionalisme, demokrasi pemerintahan, parlementer, emansipasi kaum wanita, dan bahkan teori evolusi, terdapat di dalam ajaran Islam, bahkan dalam bentuk yang sempurna. Dan walaupun bentuknya seperti konsepyang di import, sebenarnya ini merupakan konsep-konsep islam yang dikembalikan lagi ke dunia Islam. Altaf Gauhar mengatakan dalam bukunya bahwa nilai-nilai abad 20 dapat dibenarkan oleh Islam, mereka mengabaikan kontradiksi, yang pokok antara mentalis modern dengan agama yang telah kita tunjukan pada awal bahasan tadi. Pemikir Islam lainnya berpendapat perlu memadu padankan unsur pilihan warisan dari kebudayaan Islam dan kebudayaan lainya. Tetapi mereka hanya sedikit sekali memberi petunjuk bagai mana memilih unsur-unsur itu dilakukan. Supaya unsur-unsur tersebut dapat diterapkan dikalangan masyarakat luas. Mereka telah membagi kebudayaan modern kedalam dimensi materil dan non materil. Yang mana unsur materil mereka terima sedangkan yang non materil mereka harus tolak karena sebagai unsur asing. Hanya sedikit manusia yang menikmati agama dan warisan kebudayaanya tanpa sedikit banyak menyadari bahwa dalam waktu bersamaan adanya sebuah gaya berbeda dan berdasarkan pandangan hidup yang bertentangan dengan perspektif Islam. Dengan adanya ketidak selarasan respon kaum muslimin, terhadap kebudayaan modern dan hampir tak terkendalinya modernisasi dalam agama islam, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kebudayaan modern benar-benar merupakan sebuah tantangan intelektuil bagi Islam, namun tantangan ini tidak menjadi masalah seperti, keadaan psikologis yang tercipta di dalam diri kaum muslimin karena pertemuan mereka dengan kebudayaan modern, korban pertama dari pertemuan kebudayaan ini adalah hegemoni politik, ekonomi, militer kaum muslimin di negara mereka sendiri. Korban kedua adalah keyakinan mereka terhadap diri sendiri. Keyakinan yang instinktif terhadap kebenaran dan kesempurnaan agama dan tradisi-tradisi kulturil mereka. Akibat dekatnya pusat dunia islam dengan eropa, perselisihan antara kaum muslimin dengan barat senantiasa berkesinambungan, dan dunia telah menjadi sasaran utama keagresifan barat. Kawasan ini terus menderita di bawah tekanan imprealisme barat. Mengalah karena keadaan histories kepada suatu keadaan psikologis tertentu bukan berarti kekalahan dalam tantangan filosofis, sebuah tantangan intelektual kebudayaan dari kebudayaan modern, hal ini disebabkan kita mempunyai pengertian yang kuno terhadap penafsiran dari kebudayaan modern, sebagai kebudayaan yang sifatnya begitu meyakinkan, dinamis dan menggoda. Dengan Islam sebagai tandingannya yang lumpuh atau pasif. Kebudayan Modern sedang kehilangan kekompakan dan keyakinan seperti halnya kaum muslimin dan bangsa-bangsa yang bukan barat merasa kurang yakin kepada diri sendiri bila berhadapan dengan kekuatan barat, keyakinan yang naïf kepada agama kemajuan yang palsu, kepada kesempurnaan yang rasionalitas sebagai alat untuk memahami kepada keunggulan kebudayaan barat. Sebagai puncak sejarah manusia semua ini menjadi suram begitu kita semakin menyadari bahwa masyarakat dan individu-individu di dunia modern berhadapan dengan problema-problema yang yampaknya tak habis-habis dan tak dapat dipecahkan. Adalah ironis sekali bahwa semakin kurangnya keyakinan dan kekokohan didalamkebudayaaan barat ini justru terjadi pada waat westrenisasi, seluruh dunia bergerak dengan kecepatan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Sebaliknya islam jangan dipandang sebagai penerima tantangan yang pasif sebagai pihak yang perananya didalam pergaulanya antar kebudayaan hanya terbatas dalam bentuk reaksi-reaksi saja. Islam pada dasarnya adalah sebuah ajaran Allah mengenai hakikat kebenaran yang realitas, yang disertai dengan sebuah methode yang bersumber dari allah, untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kebenaran realitas didalam setiap aktipitas kehidupan manusia, dengan allah sebagai sumbernya dan dengan hakikat kebenaranya maka islam bila ditinjau dari sudut pandangan yang tertentu adalah keras obyektif dan netral, sedang kebenaran dan keotentikanya sama sekali bebas dari pemberan atau penyanggahan manusia. Tantangan yang diajukan islam kepada mentalitas modern itu adalah beraneka ragam, yang paling penting dan radikal diantaranya adalah pernyataan tertinggi mengenai kreatifitas dan kekuasaan allah dan mengenai kehadiranya yang tak dapat di mungkiri didalam seluruh alam ciptaanya, allah telah menciptakan kita dank arena ia telah menciptakan kita maka ia memelihara kita.



B.     Penyebaran Ilmu Pengetahuan oleh Dunia Barat (Eropa)
Catatan mengenai peradaban manusia yang paling awal tercatat berasal dari timur tengah, persisnya Mesir pada zaman prasejarah, nenek moyang manusia modern di mesir sudah mengenal bahasa terbukti dengan peninggalan tulisan-tulisan yang diukir di batu-batu di dalam goa. Sejarah mencatat bahwa bangsa mesir kuno sudah mengenal ilmu bintang, ilmu bumi, arsitektur dsb. Bangsa mesir kemudian juga mengembangkan phapyrus (sejenis kulit kayu) yang dijadikan bahan tulis (3000 SM). Pada tahun 105 M Ts’ailun dari Cina menemukan kertas menggunakan teknik yang tergolong canggih pada masa itu, bangsa cina memproduksi kertas dari pohon bambu yang dihancurkan, kemudian memanfaatkan seratnya untuk diproses dan dijadikan lembar tipis bernama kertas. Sejarah mencatat bahwa sejak itu Cina memimpin peradaban manusia dan sebagai dampak dari penemuam kertas ini, bangsa Cina melahirkan banyak penemuan-penemuan baru seperti Kompas dan mesiu dll. Penemuan-penemuan besar yang mempengaruhi kemajuan peradaban manusia ini tercatat dalam “100 tokoh yang paling berpengaruh pada sejarah umat manusia “. Pada tahun 1439 seorang Jerman bernama Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak. Penemuan mesin cetak Gutenberg memberi dampak pada ledakan Ilmu pengetahuan di Eropa dan penemuan-penemuan baru di berbagai bidang. Bangsa Eropa kemudian tercatat menggantikan Cina menjadi pemimpin Ilmu pengetahuan dan peradaban manusia hingga sekarang. Perjalanan sejarah manusia membuktikan bahwa kemajuan peradaban Manusia dipicu perkembangan Ilmu Pengetahuan. Perkembangan Ilmu Pengetahuan tidak terlepasa dari cara penyebaran dan penyampaian Informasi dan Ilmu Pengetahuan itu sendiri. Bangsa Cina berhasil mengejar ketertinggalan dari bangsa Mesir ketika Ts’Ai Lun menemukan kertas dan merevolusioner cara Distribusi Ilmu Pengetahuan. Demikian juga penemuam mesin cetak oleh Bangsa Eropa kembali merevolusioner cara mencetak Buku dan mendistribusikan Ilmu Pengetahuan sehingga membuat Bangsa Eropa menjadi pemimpin selama berabad-abad lamanya. Buku adalah jendela Ilmu, sebuah kiasan yang dipercaya secara turun temurun. Buku memainkan perananan penting dalam penyebaran Ilmu Pengetahuan, dan membawa peradaban Manusia kearah lebih maju dan lebih modern.


C.    Pertemuan  Kebudayaan Yunani dengan Kebudayaan Islam
Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang masuk dalam pemikiran Islam, diakui banyak kalangan telah mendorong perkembangan filasafat islam menjadi makin pesat. Namun demikian, seperti dikatakan Oliver Leaman, adalah suatu kesalahan besar jika menganggap bahwa filsafat Islam bermula dari penerjemahan teks-teks Yunani tersebut atau hanya nukilan dari Filsafat Aristoteles (384-322 SM) seperti dituduhkan Renan, atau dari Neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem. Pertama, bahwa belajar atau berguru tidak berarti meniru atau membebek semata mesti dipahami bahwa kebudayaan Islam menembus berbagai macam gelombang dimana ia bergumul dan berinteraksi. Pergumulan dan interaksi ini melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Jika kebudayaan islam tersebut terpengaruh oleh Kebudayaan Yunani, mengapa tidak terpengaruh oleh peradaban India dan Persia misalnya ?, artinya Tranformasi dan peminjaman beberapa pemikiran tidak harus mengkonsekuensikan perbudakan dan penjiplakan, kedua, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa pemikiran rasional telah dahulu mapan dalam masyarakat Muslim sebelum kedatangan filsafat Yunani. Meski karya-karya Yunani mulai diterjemahkan pada masa kekuasaan Bani Umayyah, tetapi buku-buku Filsafatnya yang kemudian melahirkan Filosof pertama Muslim yakni Al-Kindi (801-873 M), baru mulai digarap pada masa dinasti Abbasyiah khususnya pada masa Al-makmun (811-833 M), oleh orang-orang seperti Yahya Al-balmaki ( wafat 857 M), Yuhana Ibnu Musyawaih dan Hunain Ibnu Ishaq. Pada masa-masa ini sistim berfikir rasional telah berkembang pesat dalam masyarakat Intelektual Arab-Islam, yakni dalam Fiqih dan Kalam. Semua itu menunjukkan bahwa sebelum dikenal adanya logika dan filsafat Yunani telah ada model pemikiran filosofis yang berjalan baik dalam masyarakat Islam, yakni dalam soal-soal Teologis dan kajian hukum. Bahkan pemikiran Rasional dari Teologi dan Hukum inilah yang telah berhasa menyiapkan landasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan Filsafat Yunani dalam Islam.

D.    Perkembangan Alam Pikiran Umat Islam
Perkembangn Ilmu Pengetahuan di dunia Islam, pengetahuan akal dan intelektual merupakan suatu dorongan intristik dan inheren dalam ajaran islam. Pada masa daulah Abbasiah, Ibukota Baghdad menjadi pusat Intelektual Muslim, dimana terjadi pengembangan Ilmu Pengetahuan dan kebudayaan Islam. Sekolah-sekolah dan Akademik muncul disetiap pelosok. Perpustakaan-perpustakaan umum yang besar didirikan dan terbuka untuk siapapun sehingga pemikiran Filosofis-filosofis besar zaman klasik dipelajari berdampingan dengan Ilmu Islam. Bila dianalisis lebih lanjut sampai periode-periode ini kaum Intelektual Islam identik dengan Ulama. Apalagi bila diingat bahwa Ulama dalam Pengertian aslinya orang berilmu. Ilmu yang dikuasainya itu tidak terbatas pada Ilmu Agama saja. Pendapat ini bisa dipegang karena kegiatan Intelektual itu tumbuh karena manusia sibuk dengan urusan Agama. Mereka ini disebut intelektual atau Ulama klasik yang oleh Shill sebagai intelektual lama atau intelektual sacral dari Abad Pertengahan. Demikianlah sejarah perkembangan Intelektual Muslim pada masa yang disebut Harun Nasution sebagai periode klasik (650-1250) yang merupkan zaman kemajuan, dimasa inilah berkembangnya dan munculnya ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun Non Agama dan Kebudayaan Islam. Zaman inilah yang menghasilkan Ulama besar seperti Imam Malik, Abu Hanafi, Imam As-syafi’i dan Imam Ibnu Hambali dalam Bidang Hukum, Teologi Zunnunal Misri, Abu Yzaud Al-Butami dan Al-Hallaj dalam mistimisme atau tasawuf, dll. Pada masa kejayaan ini perkembangan intelektual muslim mencapai puncaknya sehingga cenderung membentuk pemikiran bebas ( rasionalisme ). Keadaan ini menimbulkan pertentanagn dan kecemasan dikalangan sebagian kaum intelektual muslim, pemikiran ini ditentang oleh Al-Ghazali (1059-1111). Sampai sekarang diakui bahwa periode sejarah peradaban Islam serta pendidikan yang paling cemerlang terjadi pada masa pemerintahan daulah Abbasyiah di Baghdad (750-1285 M) dan Daulah Umayyah di Spanyol (711-1492 M).









BAB III
PENUTUP
Simpulan

o   Islam pada dasarnya adalah sebuah ajaran Allah mengenai hakikat kebenaran yang realitas, yang disertai dengan sebuah methode yang bersumber dari allah, untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kebenaran realitas didalam setiap aktipitas kehidupan manusia, dengan allah sebagai sumbernya dan dengan hakikat kebenaranya maka islam bila ditinjau dari sudut pandangan yang tertentu adalah keras obyektif dan netral, sedang kebenaran dan keotentikanya sama sekali bebas dari pemberan atau penyanggahan manusia.
o   Buku adalah jendela Ilmu, sebuah kiasan yang dipercaya secara turun temurun. Buku memainkan perananan penting dalam penyebaran Ilmu Pengetahuan, dan membawa peradaban Manusia kearah lebih maju dan lebih modern.
o   Yunani telah ada model pemikiran filosofis yang berjalan baik dalam masyarakat Islam, yakni dalam soal-soal Teologis dan kajian hukum. Bahkan pemikiran Rasional dari Teologi dan Hukum inilah yang telah berhasa menyiapkan landasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan Filsafat Yunani dalam Islam.
o   Sampai sekarang diakui bahwa periode sejarah peradaban Islam serta pendidikan yang paling cemerlang terjadi pada masa pemerintahan daulah Abbasyiah di
o   Baghdad (750-1285 M) dan Daulah Umayyah di Spanyol (711-1492 M).










DAFTAR PUSTAKA



Gafar Abdul. Pengaruh Peradaban Islam Di Dunia Barat. 2013

Mas’ud Ibnu. IAD ILMU ALAMIAH DASAR. pustaka setia. Bandung. 2008

Pertemuan islam dan barat.htm



Tidak ada komentar:

Posting Komentar