Rabu, 16 Desember 2015

Kebudayaan Islam Dan Barat



Kebudayaan Islam Dan Barat
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Mata Kuliah Ilmu Alamiah
Dasar – kelas A – Semester Ganjil (III) – Program Studi Pendidikan
Guru Raudhatul Athfal – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Dosen:
H. Yayan Carlian, M.Pd.













 









Disusun oleh :
Alis Siti Nuraeni                                 1142100004
Fitri Novianti                                      1142100028
Fitrah Fairus                                        1142100027

Bandung

2015
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah berjudul “ILMU PENGETAHUAN ALAM”. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penulis tidak akan mampu menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad saw.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar pada semester Ganjil (III) tahun akademik 2015  yang dibimbing oleh Bapak H. Yayan Carlian, M.Pd.
Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak akan terwujud  tanpa adanya bimbingan, bantuan, dorongan, dan doa’a restu dari berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Semoga makalah ini bermanfaat bagi banyak pihak dan juga dapat menambah wawasan ilmu mengenai ilmu tentang.











Bandung, September 2015


Penulis,
DAFTRAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang......................................................................................... 1-2
B.     Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C.     Tujuan…………………………………………………………………...2
            BAB II
PEMBAHASAN
A.    Lahirnya Ilmu Alamiah Dasar.................................................................. 2
B.     Kriteria ilmiah.......................................................................................... 2
C.     Perkembangan IPA.................................................................................. 3
D.    Perkembangan Alam Pikiran Umat Islam……………………………… 8-9
BAB III
PENUTUP
Simpulan ................................................................................................. 10
             DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 11







BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Suatu hal lumrah jika kebudayaan yang mundur akan belajar dari kebudayaan yang maju. Adalah alami jika suatu kebudayaan yang terbelakang mengadopsi konsep-konsep kebudayaan yang lebih maju. Tidak ada kebudayaan di dunia ini yang berkembang tanpa proses interaksi dengan kebudayaan asing. Ketika peradaban Islam unggul dibanding peradaban Eropa, misalnya, mereka telah meminjam konsep-konsep penting dalam Islam, akan tetapi, tidak berarti bahwa semua kebudayaan dapat mengambil semua konsep dari kebudayaan lain. Setiap kebudayaan memiliki identitas, nilai, konsep dan ideologinya sendiri-sendiri yang disebut dengan worldview (pandangan hidup).
Suatu kebudayaan dapat meminjam konsep-konsep kebudayaan lain karena memiliki pandangan hidup. Namun suatu kebudayaan tidak dapat meminjam sepenuhnya (mengadopsi) konsep-konsep kebudayaan lain, sebab dengan begitu ia akan kehilangan identitasnya. Peminjaman konsep dari suatu kebudayaan mengharuskan adanya proses integrasi dan internalisasi konseptual. Namun dalam proses itu, unsur-unsur pokoknya berperan sebagai filter yang menentukan diterima tidaknya suatu konsep. Hal ini berlaku dalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, yaitu ketika Islam meminjam khazanah pemikiran Yunani, India, Persia, dan lain-lain. Pelajaran yang penting dicatat dalam hal ini bahwa ketika para ulama meminjam konsep-konsep asing, mereka berusaha mengintegrasikan konsep-konsep asing ke dalam pandangan hidup Islam dengan asas pandangan hidup Islam. Memang, proses ini tidak bias berlangsung sekali jadi. Perlu proses koreksi-mengoreksi dan itu berlangsung dari generasi ke generasi.
Pada zaman awal perkembangan islam, sebenarnya kaum muslimin tidak bermaksud mengutip pemikiran filsafat dari pihak manapun juga. Mereka tidak menarauh perhatian pada saat soal tersebut bahkan sama sekali tidak berniat mengutip ilmu apapun juga dan tidak pernah memikirkannya.
Di era modern dan post-modern sekarang ini, pemikiran dan kebudayaan Barat   mengungguli kebudayaan-kebudayaan lain, termasuk peradaban Islam. Namun tradisi pinjam-meminjam yang terjadi telah bergeser menjadi proses adopsi, yakni mengambil penuh konsep-konsep asing, khususnya Barat, tanpa proses adaptasi atau integrasi. Apa yang dimaksud dengan konsep di sini bukan dalam kaitannya dengan sains dan teknologi yang bersifat eksak, tetapi lebih berkaitan dengan konsep keilmuan, kebudayaan, sosial, dan bahkan keagamaan.
Dalam konteks pembangunan peradaban Islam sekarang ini, proses adaptasi pemikiran merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Namun sebelum melakukan hal itu diperlukan suatu kemampuan untuk menguasai pandangan hidup Islam dan sekaligus Barat, esensi peradaban Islam dan kebudayaan Barat. Dengan demikian, seorang cendekiawan dapat berlaku adil terhadap keduanya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana terjadinya pertemuan kebudayaan islam dan barat?
2.      Bagaimana penyebaran ilmu pengetahuan Dunia Barat (Erofa)?
3.      Bagaimana sejarah kebudayaan Yunani dengan kebudayaan Islam?

C.    Tujuan
Untuk mengetahui peristiwa terjadinya pertemuan kebudayaan Islam dan Barat, serta penyebaran ilmu pengetahuan oleh dunia Barat (Erofa), juga pertemuan kebudayaan Yunani dengan kebudayaan islam dan perkembanagan alam pikiran umat islam.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pertemuan  Kebudayaan Islam dan Barat
Kebudayaan Modern pada dasarnya adalah kebudayaan barat, pada kenyataannya kebudayaan ini melanda seluruh dunia dan merupakan sebuah gelombang raksasa yang menyapu segala sesuatu yang menghadangnya, di dukung oleh bangsa-bangsa tertentu yang bukan bangsa barat ikut berpartisipasi aktif menyebarkan dan mengembangkan kebudayaan barat tersebut. Untuk mengemukakan asal usul kebudayaan barat, kita dapat menjajaki berdasarkan perkembangan histories, kebudayaan modern ini bermula dengan humanisme renaisence diteruskan oleh rasionalisme abad ke 17 dan 18, dan memuncak jaman saintisme dan materialisme abad 19 dan 20. Jadi kebangkitan kebudayaan modern ini perlahan-lahan dan penjegalannya terhadap agama merupakan kekuatan yang memberikan motivasi kepada manusia dan masyarakat, telah terjadi secara sembunyi-sembunyi.dengan demikian agama Kristen telah sanggup menyesuaikan diri dengan fenomena ini. Setidaknya secara lahiriyah, agama Kristen dalam bentuk protestannya yang memperkenalkan prinsip. “ penyelidikan bebas” ke dalam persoalan keagamaan. Kristen itu sendiri adalah salah satu di antara faktor-faktor yang menciptakan mentalis modern.pada zaman sebelum reformasi, karena kesediaan Kristen telah menabur benih-benih aliensi terhadap persoalan-persoalan agama, sejarah agama Kristen di barat dan sejarah kebudayaan modern. Membentuk sebuah kontinuitas. Tanpa iterufsi-iterufsi yang terlihat. Pandangan-pandangan Kristen dan barat sesudah kedatangan Kristen merasa diri mereka dibebani oleh misi-misi universal untuk menyelamatkan umat manusia, dalam berbagai hal adalah sama. Jika pada waktu sebelumnya yang dipentingkan adalah” memenangkan dunia demi kristus” maka sekarang adalah “ memenangi dunia demi Modernisasi” – yaitu moderenisasi yang sesuai dengan model barat yang dengan semangat yang diagung-agungkan sebagai satu-satunya jalan yang pasti bagi keselamatan umat manusia. Namun bagi umat islam kebudayaan modern merupakan sebuah fenomena aneh yang bermuka dua. Kebudayaan modern aneh karena dasar metafisisnya dan arah karena asal-usulnya geografis dan historiesnya. Dunia islam telah dipaksa berkenalan dengan dunia modern tanpa cukup persiapan yang ditimbulkan oleh sebuah proses perubahan histories dari pihak pribumi. Bagi dunia islam modernisasi telah berubah menjadi sebuah kekuatan asing yang mengganggu. Banyak peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dunia islam selama dua abad ini merupakan akibat dari perkembangan yang sama sekali berdiri sendiri.untuk memandang sejarah islam pada waktu-waktu belakang semata-mata sebagai bentuk “respon-respon kaum muslimin terhadap barat”. Seperti yang biasa dilakukan oleh kaum orientalis adalah salah. Dan pandangan ini akibat dari sistim ethnocentris. Walaupun demikian tidak dapat disangkal sebagian besar jerih payah kaum muslimin selama lebih dari satu abad telah diarahkan untuk menentang gangguan asing atau kebudayaan barat. Gangguan ini bermula sebagai akibat dari kebutuhan empiris, ketika pasukan dan usaha-usaha dagang Eropa memberondong dunia Islam kepada status jajahan atau setengah jajahan, pada zaman sekarang ini setelah dominasi lahirlah Imprealisme itu berakhir. Kesediaan untuk menerima kebudayaan modern masih terus berlangsung dan pendefinisian hubungan dan modernisasi yang dapat diterima tetap merupakan masalah utama bagi banyak para tokoh kaum muslimin. Berbagai pemecahan telah diberikan. Reaksi awal kebanyakan kaum muslimin terhadap perkenalan mereka yang pertama kali dengan barat modern, pada abad sembilan belas adalah penolakan total dan instinktif, bahkan terhadap ciptaan –ciptaan mereka yang biasa mesin cetak, sikap ekstrim yang berlawanan ini dengan sikap di atas pada saat sekarang adalah yang ditunjukan oleh sipendobrak yang berasal dari kaum umat muslim sendiri. Para pendobrak ini menghendaki agar kita meninggalkan seluruh ajaran-ajaran Islam, baik sebagai kultur maupun sebagai agama. Dan menelan mentah-mentah norma-norma dan methode-methode barat di dalam semua bidang kehidupan. Diantara dua sikap yang bertentangan terdapat berbagai formula yang berusaha dengan satu atau lain cara melangkahi jurang pemisah antara tradisi islam dengan kebudayaan barat. Banyak tokoh-tokoh muslim telah menyinggung pengaruh normative yang diberikan islam kepada sumber kebudayaaan Eropa setelah abad pertengahan sebuah pengaruh yang dipancarkan dari Spanyol dan Cicilia yang pada waktu itu berada dibawah kekuatan kaum muslimin. Tokoh –tokoh ini berpendapat bahwa kebudayaan modern itu pada dasarnya berasal dari kebudayaan muslim sendiri betapapun perkembangan historisnya. Sikap ini muncul pada abad 19 didalam pemikiran pemikiran dan tulisan-tulisan dari dua tokoh yang umum di anggap sebagai pelopor Renaissance Islam yaitu Jamel al Dien Asadabadi ( Afgahani ) dari Persia dan muridnya Muhammad abduh dari Mesir. Sikap ini mempunyai popularitas yang abadi sebagai sebuah formula yang mengijinkan berasimilasi kebudayaan barat. Misalnya tokoh-tokoh ini mengemukakan bahwa rasionalisme, demokrasi pemerintahan, parlementer, emansipasi kaum wanita, dan bahkan teori evolusi, terdapat di dalam ajaran Islam, bahkan dalam bentuk yang sempurna. Dan walaupun bentuknya seperti konsepyang di import, sebenarnya ini merupakan konsep-konsep islam yang dikembalikan lagi ke dunia Islam. Altaf Gauhar mengatakan dalam bukunya bahwa nilai-nilai abad 20 dapat dibenarkan oleh Islam, mereka mengabaikan kontradiksi, yang pokok antara mentalis modern dengan agama yang telah kita tunjukan pada awal bahasan tadi. Pemikir Islam lainnya berpendapat perlu memadu padankan unsur pilihan warisan dari kebudayaan Islam dan kebudayaan lainya. Tetapi mereka hanya sedikit sekali memberi petunjuk bagai mana memilih unsur-unsur itu dilakukan. Supaya unsur-unsur tersebut dapat diterapkan dikalangan masyarakat luas. Mereka telah membagi kebudayaan modern kedalam dimensi materil dan non materil. Yang mana unsur materil mereka terima sedangkan yang non materil mereka harus tolak karena sebagai unsur asing. Hanya sedikit manusia yang menikmati agama dan warisan kebudayaanya tanpa sedikit banyak menyadari bahwa dalam waktu bersamaan adanya sebuah gaya berbeda dan berdasarkan pandangan hidup yang bertentangan dengan perspektif Islam. Dengan adanya ketidak selarasan respon kaum muslimin, terhadap kebudayaan modern dan hampir tak terkendalinya modernisasi dalam agama islam, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kebudayaan modern benar-benar merupakan sebuah tantangan intelektuil bagi Islam, namun tantangan ini tidak menjadi masalah seperti, keadaan psikologis yang tercipta di dalam diri kaum muslimin karena pertemuan mereka dengan kebudayaan modern, korban pertama dari pertemuan kebudayaan ini adalah hegemoni politik, ekonomi, militer kaum muslimin di negara mereka sendiri. Korban kedua adalah keyakinan mereka terhadap diri sendiri. Keyakinan yang instinktif terhadap kebenaran dan kesempurnaan agama dan tradisi-tradisi kulturil mereka. Akibat dekatnya pusat dunia islam dengan eropa, perselisihan antara kaum muslimin dengan barat senantiasa berkesinambungan, dan dunia telah menjadi sasaran utama keagresifan barat. Kawasan ini terus menderita di bawah tekanan imprealisme barat. Mengalah karena keadaan histories kepada suatu keadaan psikologis tertentu bukan berarti kekalahan dalam tantangan filosofis, sebuah tantangan intelektual kebudayaan dari kebudayaan modern, hal ini disebabkan kita mempunyai pengertian yang kuno terhadap penafsiran dari kebudayaan modern, sebagai kebudayaan yang sifatnya begitu meyakinkan, dinamis dan menggoda. Dengan Islam sebagai tandingannya yang lumpuh atau pasif. Kebudayan Modern sedang kehilangan kekompakan dan keyakinan seperti halnya kaum muslimin dan bangsa-bangsa yang bukan barat merasa kurang yakin kepada diri sendiri bila berhadapan dengan kekuatan barat, keyakinan yang naïf kepada agama kemajuan yang palsu, kepada kesempurnaan yang rasionalitas sebagai alat untuk memahami kepada keunggulan kebudayaan barat. Sebagai puncak sejarah manusia semua ini menjadi suram begitu kita semakin menyadari bahwa masyarakat dan individu-individu di dunia modern berhadapan dengan problema-problema yang yampaknya tak habis-habis dan tak dapat dipecahkan. Adalah ironis sekali bahwa semakin kurangnya keyakinan dan kekokohan didalamkebudayaaan barat ini justru terjadi pada waat westrenisasi, seluruh dunia bergerak dengan kecepatan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Sebaliknya islam jangan dipandang sebagai penerima tantangan yang pasif sebagai pihak yang perananya didalam pergaulanya antar kebudayaan hanya terbatas dalam bentuk reaksi-reaksi saja. Islam pada dasarnya adalah sebuah ajaran Allah mengenai hakikat kebenaran yang realitas, yang disertai dengan sebuah methode yang bersumber dari allah, untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kebenaran realitas didalam setiap aktipitas kehidupan manusia, dengan allah sebagai sumbernya dan dengan hakikat kebenaranya maka islam bila ditinjau dari sudut pandangan yang tertentu adalah keras obyektif dan netral, sedang kebenaran dan keotentikanya sama sekali bebas dari pemberan atau penyanggahan manusia. Tantangan yang diajukan islam kepada mentalitas modern itu adalah beraneka ragam, yang paling penting dan radikal diantaranya adalah pernyataan tertinggi mengenai kreatifitas dan kekuasaan allah dan mengenai kehadiranya yang tak dapat di mungkiri didalam seluruh alam ciptaanya, allah telah menciptakan kita dank arena ia telah menciptakan kita maka ia memelihara kita.



B.     Penyebaran Ilmu Pengetahuan oleh Dunia Barat (Eropa)
Catatan mengenai peradaban manusia yang paling awal tercatat berasal dari timur tengah, persisnya Mesir pada zaman prasejarah, nenek moyang manusia modern di mesir sudah mengenal bahasa terbukti dengan peninggalan tulisan-tulisan yang diukir di batu-batu di dalam goa. Sejarah mencatat bahwa bangsa mesir kuno sudah mengenal ilmu bintang, ilmu bumi, arsitektur dsb. Bangsa mesir kemudian juga mengembangkan phapyrus (sejenis kulit kayu) yang dijadikan bahan tulis (3000 SM). Pada tahun 105 M Ts’ailun dari Cina menemukan kertas menggunakan teknik yang tergolong canggih pada masa itu, bangsa cina memproduksi kertas dari pohon bambu yang dihancurkan, kemudian memanfaatkan seratnya untuk diproses dan dijadikan lembar tipis bernama kertas. Sejarah mencatat bahwa sejak itu Cina memimpin peradaban manusia dan sebagai dampak dari penemuam kertas ini, bangsa Cina melahirkan banyak penemuan-penemuan baru seperti Kompas dan mesiu dll. Penemuan-penemuan besar yang mempengaruhi kemajuan peradaban manusia ini tercatat dalam “100 tokoh yang paling berpengaruh pada sejarah umat manusia “. Pada tahun 1439 seorang Jerman bernama Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak. Penemuan mesin cetak Gutenberg memberi dampak pada ledakan Ilmu pengetahuan di Eropa dan penemuan-penemuan baru di berbagai bidang. Bangsa Eropa kemudian tercatat menggantikan Cina menjadi pemimpin Ilmu pengetahuan dan peradaban manusia hingga sekarang. Perjalanan sejarah manusia membuktikan bahwa kemajuan peradaban Manusia dipicu perkembangan Ilmu Pengetahuan. Perkembangan Ilmu Pengetahuan tidak terlepasa dari cara penyebaran dan penyampaian Informasi dan Ilmu Pengetahuan itu sendiri. Bangsa Cina berhasil mengejar ketertinggalan dari bangsa Mesir ketika Ts’Ai Lun menemukan kertas dan merevolusioner cara Distribusi Ilmu Pengetahuan. Demikian juga penemuam mesin cetak oleh Bangsa Eropa kembali merevolusioner cara mencetak Buku dan mendistribusikan Ilmu Pengetahuan sehingga membuat Bangsa Eropa menjadi pemimpin selama berabad-abad lamanya. Buku adalah jendela Ilmu, sebuah kiasan yang dipercaya secara turun temurun. Buku memainkan perananan penting dalam penyebaran Ilmu Pengetahuan, dan membawa peradaban Manusia kearah lebih maju dan lebih modern.


C.    Pertemuan  Kebudayaan Yunani dengan Kebudayaan Islam
Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang masuk dalam pemikiran Islam, diakui banyak kalangan telah mendorong perkembangan filasafat islam menjadi makin pesat. Namun demikian, seperti dikatakan Oliver Leaman, adalah suatu kesalahan besar jika menganggap bahwa filsafat Islam bermula dari penerjemahan teks-teks Yunani tersebut atau hanya nukilan dari Filsafat Aristoteles (384-322 SM) seperti dituduhkan Renan, atau dari Neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem. Pertama, bahwa belajar atau berguru tidak berarti meniru atau membebek semata mesti dipahami bahwa kebudayaan Islam menembus berbagai macam gelombang dimana ia bergumul dan berinteraksi. Pergumulan dan interaksi ini melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Jika kebudayaan islam tersebut terpengaruh oleh Kebudayaan Yunani, mengapa tidak terpengaruh oleh peradaban India dan Persia misalnya ?, artinya Tranformasi dan peminjaman beberapa pemikiran tidak harus mengkonsekuensikan perbudakan dan penjiplakan, kedua, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa pemikiran rasional telah dahulu mapan dalam masyarakat Muslim sebelum kedatangan filsafat Yunani. Meski karya-karya Yunani mulai diterjemahkan pada masa kekuasaan Bani Umayyah, tetapi buku-buku Filsafatnya yang kemudian melahirkan Filosof pertama Muslim yakni Al-Kindi (801-873 M), baru mulai digarap pada masa dinasti Abbasyiah khususnya pada masa Al-makmun (811-833 M), oleh orang-orang seperti Yahya Al-balmaki ( wafat 857 M), Yuhana Ibnu Musyawaih dan Hunain Ibnu Ishaq. Pada masa-masa ini sistim berfikir rasional telah berkembang pesat dalam masyarakat Intelektual Arab-Islam, yakni dalam Fiqih dan Kalam. Semua itu menunjukkan bahwa sebelum dikenal adanya logika dan filsafat Yunani telah ada model pemikiran filosofis yang berjalan baik dalam masyarakat Islam, yakni dalam soal-soal Teologis dan kajian hukum. Bahkan pemikiran Rasional dari Teologi dan Hukum inilah yang telah berhasa menyiapkan landasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan Filsafat Yunani dalam Islam.

D.    Perkembangan Alam Pikiran Umat Islam
Perkembangn Ilmu Pengetahuan di dunia Islam, pengetahuan akal dan intelektual merupakan suatu dorongan intristik dan inheren dalam ajaran islam. Pada masa daulah Abbasiah, Ibukota Baghdad menjadi pusat Intelektual Muslim, dimana terjadi pengembangan Ilmu Pengetahuan dan kebudayaan Islam. Sekolah-sekolah dan Akademik muncul disetiap pelosok. Perpustakaan-perpustakaan umum yang besar didirikan dan terbuka untuk siapapun sehingga pemikiran Filosofis-filosofis besar zaman klasik dipelajari berdampingan dengan Ilmu Islam. Bila dianalisis lebih lanjut sampai periode-periode ini kaum Intelektual Islam identik dengan Ulama. Apalagi bila diingat bahwa Ulama dalam Pengertian aslinya orang berilmu. Ilmu yang dikuasainya itu tidak terbatas pada Ilmu Agama saja. Pendapat ini bisa dipegang karena kegiatan Intelektual itu tumbuh karena manusia sibuk dengan urusan Agama. Mereka ini disebut intelektual atau Ulama klasik yang oleh Shill sebagai intelektual lama atau intelektual sacral dari Abad Pertengahan. Demikianlah sejarah perkembangan Intelektual Muslim pada masa yang disebut Harun Nasution sebagai periode klasik (650-1250) yang merupkan zaman kemajuan, dimasa inilah berkembangnya dan munculnya ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun Non Agama dan Kebudayaan Islam. Zaman inilah yang menghasilkan Ulama besar seperti Imam Malik, Abu Hanafi, Imam As-syafi’i dan Imam Ibnu Hambali dalam Bidang Hukum, Teologi Zunnunal Misri, Abu Yzaud Al-Butami dan Al-Hallaj dalam mistimisme atau tasawuf, dll. Pada masa kejayaan ini perkembangan intelektual muslim mencapai puncaknya sehingga cenderung membentuk pemikiran bebas ( rasionalisme ). Keadaan ini menimbulkan pertentanagn dan kecemasan dikalangan sebagian kaum intelektual muslim, pemikiran ini ditentang oleh Al-Ghazali (1059-1111). Sampai sekarang diakui bahwa periode sejarah peradaban Islam serta pendidikan yang paling cemerlang terjadi pada masa pemerintahan daulah Abbasyiah di Baghdad (750-1285 M) dan Daulah Umayyah di Spanyol (711-1492 M).









BAB III
PENUTUP
Simpulan

o   Islam pada dasarnya adalah sebuah ajaran Allah mengenai hakikat kebenaran yang realitas, yang disertai dengan sebuah methode yang bersumber dari allah, untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kebenaran realitas didalam setiap aktipitas kehidupan manusia, dengan allah sebagai sumbernya dan dengan hakikat kebenaranya maka islam bila ditinjau dari sudut pandangan yang tertentu adalah keras obyektif dan netral, sedang kebenaran dan keotentikanya sama sekali bebas dari pemberan atau penyanggahan manusia.
o   Buku adalah jendela Ilmu, sebuah kiasan yang dipercaya secara turun temurun. Buku memainkan perananan penting dalam penyebaran Ilmu Pengetahuan, dan membawa peradaban Manusia kearah lebih maju dan lebih modern.
o   Yunani telah ada model pemikiran filosofis yang berjalan baik dalam masyarakat Islam, yakni dalam soal-soal Teologis dan kajian hukum. Bahkan pemikiran Rasional dari Teologi dan Hukum inilah yang telah berhasa menyiapkan landasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan Filsafat Yunani dalam Islam.
o   Sampai sekarang diakui bahwa periode sejarah peradaban Islam serta pendidikan yang paling cemerlang terjadi pada masa pemerintahan daulah Abbasyiah di
o   Baghdad (750-1285 M) dan Daulah Umayyah di Spanyol (711-1492 M).










DAFTAR PUSTAKA



Gafar Abdul. Pengaruh Peradaban Islam Di Dunia Barat. 2013

Mas’ud Ibnu. IAD ILMU ALAMIAH DASAR. pustaka setia. Bandung. 2008

Pertemuan islam dan barat.htm



Selasa, 15 Desember 2015

Alam Pikiran Manusia Terhadap Mitos



Alam Pikiran Manusia Terhadap Mitos
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur Mata Kuliah Ilmu Alamiah
Dasar – kelas A – Semester Ganjil (III) – Program Studi Pendidikan
Guru Raudhatul Athfal – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Dosen:
H. Yayan Carlian, M.Pd.








Disusun oleh :
Alis Siti Nuraeni                                 1142100004
Fitri Novianti                                      1142100028
Fitrah Fairus                                        1142100027

Bandung

2015



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
            Tuhan menciptakan dua makhluk, yang satu bersifat anorganis (benda mati) dan yang lain bersifat organis (makhluk hidup). Benda yang menjadi pengisi bumi tunduk pada hukum alam (deterministis) dan makhluk hidup tunduk pada hukum kehidupan (biologis), tetapi yang jelas ciri-ciri kehidupan manusia sebagai makhluk yang tertinggi, lebih sempurna dari hewan maupun tumbuhan.
            Dari sekian banyak ciri-ciri manusia sebagai makhluk hidup, akal budi dan kemauan keras itulah yang merupakan sifat unik manusia. Manusia merupakan makhluk hidup ciptaan tuhan yang paling berhasil dalam persaingan hidup di bumi ini, meski banyak keterbatasan fisik, seperti: ukuran, kekuatan, kecepatan, dan panca inderanya, bila dibandingkan dengan penghuni bumi lainnya. Keberhasilan itu disebabkan oleh manusia memiliki kemampuan otak yang lebih baik daripada makhluk lainnya, yang memungkinkan lebih mudah untuk beradabtasi dengan lingkungannya.
            Rasa ingin tahu, juga merupakan salah satu ciri khas manusia. Ia mempunyai kemampuan untuk berpikir sehingga rasa keingintahuannya tidak tetap sepanjang zaman. Karena manusia akan selalu bertanya apa, bagaimana dan mengapa begitu. Manusia juga mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru sehingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.

B.      Rumusan Masalah

1.      Apa hakekat alam pikiran manusia yang sebenarnya dan bagaimana sifat keingintahuannya?
2.      Bagaimana sejarah pengetahuan manusia terhadap mitos?

C.      Tujuan

1.      Untuk mengetahui bagaimana alam pikiran manusia yang sebenarnya dan sifat keingintahuannya.
2.      Untuk mengetahui perkembangan alam pikiran manusia terhadap mitos.











BAB II
PEMBAHASAN

A.     Hakikat Manusia dan Keingintahuannya

Manusia dengan kemampuan berpikir dan bernalar, dengan akal serta nuraninya memungkinkan untuk selalu berbuat yang lebih baik dan bijaksana untuk dirinya maupun lingkungannya.
1.  Kelebihan Manusia dari Penghuni Bumi Lainnya
            Manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan penghuni bumi lainnya. Beberapa kelebihan manusia dari pada makhluk lainnya antara lain :
a.   Manusia sebagai makhluk berpikir dan bijaksana (Homo sapiens) yang dicerminkan dalam tindakan dan perilakunya terhadap lingkungannya.
b.     Manusia sebagai pembuat alat karena sadar akan keterbatasan inderanya.
c.      Manusia dapat berbicara (Homo Langues) baik secara lisan maupun tulisan.
d.     Manusia dapat hidup bermasyarakat (Homo sosius) dan berbudaya (Homo Humanis).
e.      Manusia dapat mengadakan usaha (Homo Economicus).
f.       Manusia mempunyai kepercayaan dan beragama (Homo religious).
2.  Sifat Keingintahuan Manusia
Manusia dengan rasa ingin tahunya yang besar ,selalu berusaha mencari keterangan tentang fenomena alam yang teramati. Untuk menjawab semua rasa ingin tahu manusia sering mereka – reka jawaban mereka sendiri . Pengetahuan seperti inilah yang disebut pseudo science. Ilmu pengetahuan juga berkembang sesuai dengan zamannya dan sejalan dengan cara berpikir dan alat bantu yang ada pada saat itu .
Cara memperoleh sains semu ( pseudo sains ), antara lain :
1.      Mitos
2.      Wahyu
3.      Otoritas dan tradisi
4.      Prasangka
5.      Intuisi
6.      Penemuan kebetulan
7.      Cara – coba – ralat

            Pada zaman Yunani ( 600 – 200 SM ) terjadi pola pikir yang lebih maju dari pola pikir mitos, dimana terjadi penggabungan antara pengamatan, pengalaman dan akal sehat, logika atau rasional. Aliran ini disebut rasionalisme. Lebih lanjut lagi dikenal dengan metode deduksi yaitu penarikan suatu kesimpulan didasarkan pada suatu yang bersifat umum (Premis mayor) menuju ke yang khusus (Premis minor). Dasar metode ilmiah sekarang adalah metode induksi, yang intinya adalah bahwa pengambilan keputusan dan kesimpulan dilakukan berdasarkan data pengamatan atau eksperimen.
Dengan selalu berlangsungnya perkembangan pengetahuan itu, tampak lebih nyata bahwa manusia berbeda dengan hewan. Manusia merupakan makhluk hidup yang berakal serta mempunyai derajat yang tinggi bila dibandingkan dengan hewan atau makhluk lainnya. Manusia mempunyai rasa ingin tahu ( curiousty ) yang tinggi dan selalu berkembang. Meskipun makhluk lainnya juga memiliki rasa ingin tahu tetapi itu hanya sebatas digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan saja. Perkembangan rasa ingin tahu pada manusia dimulai dengan timbulnnya pertanyaan dari sesuatu yang dilihat dan diamatinya. Adanya kemampuan berpikir pada manusia menyebabkan terus berkembangnya rasa ingin tahu manusia terhadap alam semesta ini . Jawaban tehadap berbagai banyak pertanyaan manusia terhadap peristiwa dan gejala yang terjadi di alam semesta ini akhirnya menjadi ilmu pengetahuan.

B.      Perkembangan Alam Pikiran Manusia Mitos

Mitos berasal dari bahasa yunani mytos atau mite bahasa Belanda myte adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan mahluk didalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian tang lebih luas mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta, dunia dan para mahluk penghuninya. Orang pertama yang memperkenalkan istilah mitos plato.
Berfikir adalah suatu kegiatan untuk memperoleh/menemukan pengetahuan yang benar. Proses berfikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan yang benar disebut penalaran. Pengetahuan yang dihasilkan penalaran ini merupakan hasil kegiatan berfikir, bukanlah hasil perasaan. Tidak semua kegiatan berfikir merupakan penalaran. Penalaran merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai ciri-ciri tertentu yakni logis dan analistis.
  Berdasarkan kriteria ini, maka tidak semua kegiatan berfikif merupakan berfikir logis dan analistis. Cara berfikir yang tidak logis dan analistis bukan merupakan penalaran. Terdapat berbagai cara untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang tidak berdasarkan penalaran, di antaranya ialah :
a.      Pengambilan kesimpulan berdasarkan perasaan.
 Merasa, merupakan suatu cara menarik kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran.
b.      Intuisi
c.       Merupakan kegiatan berfikir yang tidak analistis, tidak berdasarkan pada pola berfikir tertentu.
d.      Wahyu.
 Adalah pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan kepada utusanNya.
e.      Trial and error.
Suatu cara untuk memperoleh pengetahuan secara coba-coba atau untung-untungan. Oleh karena itu, Pola pikir berdasarkan mitos mengajak manusia untuk berkembang melalui tahap-tahap peradabannya dari menemukan sesuatu yang asing menuju ke sesuatu yang dikenal. Ini adalah suatu hal yang dapat kita katakan sebagai pola kemanusiawian biasa. Implikasinya, berpikir berdasarkan mitos adalah suatu bakat manusiawi, tidak bisa kita hindari. Demikianlah yang dialami oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia termasuk bangsa Indonesia, walaupun dapat dipergunjingkan lagi ketika perilaku semacam ini masih bertahan sampai sekarang.
Pada zaman dahulu, kemampuan manusia masih terbatas baik peralatan maupun pemikiran. Keterbatasan itu menyebakan pengamatan menjadi kurang seksama, dan cara pemikiran yang sederhana menyebabkan hasil pemecahan masalah memberikan kesimpulan yang kurang tepat. Dengan demikan, pengetahuan yang terkumpul belum memberikan kepuasan terhadap rasa ingin tahu manusia dan masih jauh dari kebenaran.
Perkembangan selanjutnya adalah untuk memenuhi kebutuhan non-fisik atau kebutuhan alam pikirannya, jadi tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan maupun pengalamannya. Untuk memuaskan alam pikirannya, manusia mereka-reka sendiri jawaban nya. Sebagai contoh:
Pelangi adalah fenomena alam indah yang sering dilihat manusia. Pelangi merupakan suatu busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. “Apakah pelangi itu”. Karena tak dapat dijawab, mereka mereka-reka dengan jawaban bahwa pelangi adalah selendang “ Bidadari “. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu “Bidadari”.
Contoh lain
 “mengapa gunung meletus? Karena tak tahu jawabannya maka direka-reka sendiri dengan jawaban “yang berkuasa dari gunung itu sedang marah”. Dengan menggunakan jalan fikiran yang sama munculah anggapan adanya “yang berkuasa” di dalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana rembulan.
Adapun cerita yang berdasarkan atas mitos ini disebut “lagenda”. Mitos itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indra manusia
a.      Alat Pengelihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tak dapat membedakan 10 gambar yang berbeda satu dengan yang lain dalam satu detik. Jika ukuran partikrl itu kecil, demikian juga jika beda yang dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
b.      Alat Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai prekuensi dari 30 sampai 30.000 per/ detik. Getran dibawah tiga puluh atau diatas tiga puluh ribu per/detik tak terdengar.
c.       Alat Penciuma dan Alat Pencecapan
 Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dikecap maupun diciumnya. Manusia hanya bias menbedakan 4 jenis rasa yaitu rasa manis, asam, asin dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan lain dapat dikenal oleh hidung kita bila konsentrasinya di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain, namun tidak semua orng bias melakukannya.
d.      Alat perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas dingin namun sangat relatif, sehingga tidak bisa di pakai sebagai alat observasi yang tepat.
            Alat-alat indra diatas sangat berbeda-beda diantara manusia: ada yang sangat tajam pengelihatannya dan ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam, penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indra kita mka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan mungkin salah pemikiran. Untuk meningkatkan ketetapan alat indra tersebut dapat juga orang di latih untuk itu, namun tetep sangat terbatas. Usaha-usaha lain adalah penciptaan alat, meskipun alat yang di ciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan tersebut.
Mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena;
a.      Keterbtasan pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan pengindraan baik langsung maupun dengan alat.
b.       Keterbatasan penalaran manusia pada masa itu, dan
c.        Hasrat ingin tahunya terpenuhi.
                Bagaimana tanggapan masyarakat setelah pengetahuan mereka yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan alat-alat ternyata berbeda dengan apa yang mereka tahu atau percaya berdasarkan mitos.
            Menurut Auguste Comte (1798-1857 M), dalam sejarah perkembangan jiwa manusia baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung dalam 3 tahap :
1)      Tahap teologi atau fiktif.
2)       Tahap filsafat atau metafisik.
3)       Tahap positif atau ilmiah ril.
            Pada masa teologi atau fiktif, manusia menciptakan mitos untuk memahami gejala alam yang ada di sekitarnya. Mitos adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pemikiran sederhana serta dikaitkan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan gaib. Dalam alam mitos ini, penalaran belum terbentuk, dan yang bekerja adalah daya khayal, imajinasi dan intuisi.
                Demikian juga manusia dengan objek masih menjadi satu antara subjek dengan objek belum ada jarak, sehingga pengetahuan yang diperoleh bersifat subjektif. Dahulu mitos sangat berpengaruh, bahkan sampai sekarang ini pun belum sepenuhnya hilang. Mencari jawaban atas sesuatu masalah dengan menghubungkannya dengan makhluk ghaib disebut berfikir secara Irasional. Tentu saja melalui ini, pengetahuan yang diperoleh belum dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
            Manusia secara terus menerus selalu mengembangkan pengetahuan. Mereka mengembangkan pengetahuan tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan yang menyangkut kelangsungan hidupnya saja. Mereka juga berusaha untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.


C.      Sejarah Pengetahuan Manusia
            Manusia selalu merasa ingin tahu, maka sesuatu yang belum terjawab dikatakan wallahualam, artinya Allah yang lebih mengetahui dan wallahualam bissawab yang artinya Allah mengetahui sebenarnya. Perkembangan lebih lanjut lanjut dari rasa ingin tahu manusia ialah untuk memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya, untuk itu manusia mereka-reka sendiri jawabannya. A. Comte menyatakan bahwa ada tiga tahap sejarah perkembangan manusia, yaitu tahap teologi (tahap metafisika), tahap filsafat dan tahap positif (tahap ilmu). Mitos termasuk tahap teologi atau tahap metefisika. Mitologi adalah pengetahuan tentang  mitos yang merupakan kumpulan cerita-cerita mitos. Cerita mitos sendiri ditularkan lewat tari-tarian, nyanyian, wayang dan lain-lain.
            Secara garis besar, mitos dibedakan atas tiga macam, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat dan legenda. Mitos timbul akibat keterbatasan pengetahuan, penalaran dan pancaindra manusia serta keinggintahuan manusia yang telah dipenuhi walaupun hanya sementara.
                Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman babylonia ±600-700 SM. Ia beranggapan alam semesta sebagai ruang setenagn bola dengan bumi datar sebagai tantangan dan langit dengan bintang-bintang sebagai atapnya yang menakjubkan mebgenal bidang ekleptika sebagai bidang edar matahari beredar ketemapat semula yaitu 25 hari (tahun kabisat) dan 365 hari (taun basitoh) juga mengenal kelompok bintang yaitu rasi scorpio, pisces, leo dan sebagainya. Rasi bintang saat ini berasal dari zaman ini pengetahuan dan ajaran babilonia setengahnya merupakan dugaan, imajinasi kepercayaan (mitos) disebut PSEUDO SCIENCE (sains palsu) artinya mirip sains tapi bkan sains sebenarnya terkadang terdapat pada pola piker orang yunani kuno (700-800 SM) ahlinfilosod astronom matematika dan teknik salah satunya keaneka ragaman benda di alam ini merupakan gejala alam saja dengan bahan dasarnya air, tetapi masih ada pendapat yang mengatakan bahwa benda itu diciptakan oleh dewa-dewa.
            Orang Babilonia menganut politeisme atau menyembah banyak dewa. Kepercayaan Babilonia banyak dipengaruhi oleh kepercayaan Sumeria. Orang Babilonia membangun banyak tempat pemujaan buat dewa yang mereka sembah. Terdapat banyak mitos yang mengiringi kepercayaan Babilonia seperti tentang penciptaan atau asal mula kehidupan di bumi. Sebagai contoh, Epos Gilgames, yang mengisahkan tindakan dewa-dewa dalam penciptaan, merupakan salah satu sastra penting Mesopotamia.
            Menurut kepercayaan Babilonia, semua dewa merupakan keturunan dari Apsu dan Tiamat. Menurut legenda, dewa-dewa Babilonia tidak bisa mengendalikan anak-anak mereka sehingga terjadi pemberontakan yang berakhir ketika Ea membunuh Apsu sementara Tiamat tidak melakukan apapun. Setiap generasi berikutnya dari dewa Babilonia dianggap lebih unggul dari dewa sebelumnya yang berpuncak pada Marduk, dewa kebijaksanaan, yang menjadi penguasa para dewa.
            Orang Babilonia merayakan kematian dan kelahiran kembali Marduk setiap tahun sebagai bagian dari kepercayaan mereka.Dikisahkan, Marduk akhirnya mengalahkan Tiamat dan setelah itu menciptakan dunia bersama dengan manusia yang hidup di dalamnya. Hubungan kekerabatan dewa-dewa Babilonia cukup kompleks. Namun ada beberapa yang layak disimak. Sin, misalnya, adalah dewa bulan, dan ayah dari Shamash, dewa orang miskin dan wisatawan. Nintu dan Anu keduanya menciptakan dewa, serta kemampuan menciptakan angin. Damkina dipercaya sebagai dewi bumi, dan merupakan istri dari Ea, dewa kebijaksanaan yang juga mengawasi seni. Mummu adalah dewa lain yang terkenal sebagai pengrajin. Enlil merupakan dewa udara yang juga mengendalikan cuaca. Ishtar, dewi cinta dan perang, menjadi terkenal karena merambah ke dunia bawah (underworld) untuk mendapatkan kekasihnya kembali. Menarik untuk dicatat bahwa sementara cinta dan perang tampaknya bertentangan di mata masyarakat modern, Ishtar bukan satu-satunya dewi cinta dan perang di kawasan Laut Tengah.

Tokoh pembaharu pada masa babilonia
1.      Anaximender (548-610 SM)
2.      Anaximenes (470-560SM)
3.      Herakledos (470-560)
4.      Pytagoras (500 SM)
5.      Erndedokles (430-480 SM)
6.      Plato (347-423)
7.      Aritoteles (322-348)
D.     Timbulnya Serta Kepuasan Mitos
            Tongkak sejarah pengamatan, pengalaman dan akal sehat manusia ialah Thales (624-546) seorang astronom, pakar dibidang matematika dan teknik. Ia berpendapat bahwa bintang mengeluarkan cahaya, bulan hanya mementulkan sinar matahari,dan lain-lain. Setelah itu muncul tokoh-tokoh perubahan lainnya seperti Anaximander, Anaximenes, Herakleitos, Pythagoras dan sebagainya.
            Berlandaskan pada pengetahuan tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Berdasarkan hal itulah mulailah dikembangkan pengetahuan praktis yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan sosialnya. Pengetahuan ini selanjutnya disebut sebagai teknologi yang merupakan penerapan IPA dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi, produksi dan industri secara tidak langsung akan diikuti dengan perubahan pola hidup manusia. Perubahan ini juga semakin mendorong rasa ingin tahu manusia ke arah yang lebih kompleks. Dengan demikian manusia akan terus berusaha mengetahui segala rahasia alam semesta yang belum terungkap
            Manusia sebagai mahluk yang berfikir dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami, dan menkjelaskan gejala-gejala alam. Rata-rata alam fikiran manusia dapat berkembang tidak hanya didapatkan dari objek yang diamati melalui pancaindra saja, tetapi seperti yang berhubungan dengan baik atau buruk, benar atau salah dan lain-lainnya.






BAB III
PENUTUP
Simpulan

            Ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu. Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang. Akumulasi dari segala yang mereka dapat dari usahanya mendapatkan jawaban dari keingintahuannya itu merupakan “pengetahuan”-nya. Pengetahuan manusia selalu berkembang. Ia selalu tidak puas dengan fakta tetapi ingin tahu juga tentang “apa,” “bagaimana” dan “mengapa” demikian.
            Puncak hasil pemikiran mitos terjadi pada zaman Babylonia (700-600 SM) yaitu horoskop (ramalan bintang), eliptika (bidang edar matahari) dan bentuk alam semesta yang menyerupai ruangan setengah bola dengan bumi datar sebagai lantainya sedangkan langit-langit dan bintangnya merupakan atap.
            Berlandaskan pada pengetahuan tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan pemenuhan kebutuhan hidupnya.
            Rasa ingin tahu tersebut menyebabkan manusia menyelidiki persoalan-persolan yang akan menghasilkan jawaban. Demikianlah pikiran manusia berkembang dari pikiran primitif sampai kepikiran yang modern.Dengan adanya ilmu pengetahuan dan rasa ingin tahu pada diri manusia, maka diharapkan setiap individu mengembangkan rasa ingin tahu tersebut menjadi penelitian-penelitian yang akan menghasilkan penemuan-penemuan yang berguna bagi ilmu pengetahuan.